Tuesday, 4 February 2025

Al Fatihah Bagian 4

Tadabur Al Fatihah bagian ke 4
ٱهْدِنَا ٱلصِّرَٰطَ ٱلْمُسْتَقِيمَ
Tunjukilah kami jalan yang lurus,

Permintaan yang diajarkan Allah yang pertama adalah permintaan hidayah. Makna dari (الهداية) adalah petunjuk atau pertolongan untuk menjalankan ketaatan, sedangkan permintaan petunjuk dari  orang yang telah mendapat petunjuk berarti ia meminta tambahan hidayah dari hidayah yang telah ada. Sebagaimana dalam firman Allah Ta’ala: “Dan orang-orang yang mendapat petunjuk, Allah menambah petunjuk kepada mereka dan memberikan kepada mereka (balasan) ketakwaannya.” (QS. Muhammad : 17)
Imam Al-Ghazali, menyebutkan bahwa hidayah memiliki tiga tingkatan. 

Pertama, memahami baik dan buruk, hidayah umum.
وَهَدَيْنٰهُ النَّجْدَيْنِۙ
"Kami telah menunjukkan kepadanya dua jalan (kebajikan dan kejahatan)," (Surat Al-Balad ayat 10).
Allah menganugerahkan hidayah jenis ini kepada segenap hamba-Nya, sebagian melalui jalan akal pikiran mereka dan sebagian lagi melalui lisan para utusan-Nya. Oleh karena itu, Allah berfirman dalam Surat Fushshilat ayat 17.
وَاَمَّا ثَمُوْدُ فَهَدَيْنٰهُمْ فَاسْتَحَبُّوا الْعَمٰى عَلَى الْهُدٰى
"Adapun kaum Samud, mereka telah Kami beri petunjuk tetapi mereka lebih menyukai kebutaan (kesesatan) daripada petunjuk itu."
Pada jenjang dasar ini, banyak pintu menuju hidayah terbuka mulai dari kitab suci, para rasul, dan akal pikiran. Hanya kedengkian, kesombongan, dan nafsu duniawi yang menutup pintu-pintu hidayah tersebut.

Kedua, cahaya ilmu dan amal saleh.
Hidayah ini berada pada satu tingkat di atas hidayah pertama. Hidayah ini dianugerahkan oleh Allah kepada sebagian hamba-Nya setelah melalui tahapan-tahapan dan sejauh kesiapan spiritual (berupa ilmu dan amal saleh) yang bersangkutan. Hidayah kedua ini merupakan buah dari mujahadah, latihan/tempaan spiritual. 
وَالَّذِيْنَ جَاهَدُوْا فِيْنَا لَنَهْدِيَنَّهُمْ سُبُلَنَاۗ
"Orang-orang yang berjihad untuk (mencari keridhaan) Kami, Kami akan tunjukkan kepada mereka jalan-jalan Kami." (Al-Ankabut ayat 69).
Pada surat lainnya, Allah mengatakan:
وَالَّذِيْنَ اهْتَدَوْا زَادَهُمْ هُدًى
"Orang-orang yang mendapat petunjuk, Allah akan menambah petunjuk kepada mereka." (Surat Muhammad ayat 17).
Ketiga, cahaya alam kenabian dan kewalian.
Hidayah level ketiga ini berada di atas hidayah kedua. Hidayah ketiga ini merupakan puncak hidayah Allah. Cahaya hidayah ini memancar setelah kesempurnaan mujahadah/tempaan spiritual yang maksimal. Hidayah ini sangat mulia karena dinisbahkan kepada Allah.
قُلْ اِنَّ هُدَى اللّٰهِ هُوَ الْهُدٰىۗ
"Katakan, ‘Sungguh, petunjuk Allah itulah petunjuk (yang sebenarnya);'" (Surat Al-An’am ayat 71).
Pada surat lain, Allah mengatakan sebagai berikut:
اَوَمَنْ كَانَ مَيْتًا فَاَحْيَيْنٰهُ وَجَعَلْنَا لَهٗ نُوْرًا يَّمْشِيْ بِهٖ فِى النَّاسِ
"Apakah orang yang sudah mati lalu Kami hidupkan dan Kami beri dia cahaya yang membuatnya dapat berjalan di tengah-tengah orang banyak (sama dengan orang yang berada dalam kegelapan?)" (Surat Al-An’am ayat 122).

Sebagian ulama membagi Hidayah ini menjadi 5  jenis :
1. Hidayah al-Ilhami (Insting/Naluri)
Hidayah al-Ilhami adalah denyut hati (gerak hati) yang ada pada setiap makhluk hidup. Hidayah ini tidak hanya diberikan kepada manusia, tetapi juga kepada hewan sekalipun.
Hidayah al-Ilhami merupakan dorongan untuk melakukan sesuatu yang tidak berdasarkan pada suatu pikiran, tetapi hanya berupa dorongan alamiah dalam diri manusia (naluri). Hidayah jenis ini diberikan oleh Allah kepada manusia sejak masih bayi.
2. Hidayah al-Hawasi (Pancaindra)
Hidayah al-hawasi atau hidayah pancaindra adalah petunjuk yang diberikan melalui pancaindra, seperti halnya melihat dengan mata, meraba dengan tangan, mencium dengan hidung, mendengar dengan telinga, dan seterusnya.
Pancaindera yang dimaksud yakni mata, telinga, hidung, indera perasa, dan indera peraba. Hidayah ini diberikan oleh Allah kepada seluruh makhluk-Nya.
3. Hidayah al-Aqli (Akal)
Hidayah al-Aqli atau hidayah akal-pikiran adalah hidayah yang dimotori dengan akal pikiran yang dengannya manusia bisa berbuat banyak hal. Hidayah jenis ini diberikan untuk meluruskan kekeliruan-kekeliruan pancaindra, sebab kadangkala tangkapan indra kurang akurat.
Pancaindra mungkin mengalami gangguan, cacat, atau memiliki kemampuan sebatas pada pendeteksian secara objektif sehingga tidak mampu menyimpulkan, mengakomodasi, dan menyalurkan petunjuk sesuai dengan kebutuhan.
4. Hidayah al-Adyani (Agama)
Hidayah al-Adyani atau hidayah agama adalah hidayah yang bersumber dari wahyu Allah, yakni Alquran. Hidayah jenis dimaksudkan sebagai petunjuk agama dan pedoman seluruh umat.
Petunjuk agama berperan penting bagi kehidupan manusia, sebab dengan akal budi semata, manusia belum bisa sampai pada kebenaran yang hakiki. Dengan agama, Allah telah memperkenalkan kebenaran demi kebenaran.
Kebenaran yang dimaksud adalah wahyu Ilahi yang mampu menunjukkan jalan yang lurus dan mengajari manusia kepada sesuatu yang belum bisa dijelaskan oleh akal atau nalurinya. Dengan berpedoman pada petunjuk agama, manusia tidak akan tersesat karena semua bersumber dari Allah semata.
5. Hidayah Taufiqi (Pertolongan)
Agama bukanlah hidayah terakhir, masih ada hidayah lain yang jauh lebih penting, yaitu hidayah Taufiqi atau hidayah pertolongan. Hidayah jenis ini semata-mata berada di tangan Allah.
Tidak ada seorang pun kecuali Allah satu-satunya yang dapat memberikan hidayah Taufiqi kepada manusia. Sebagaimana yang terjadi pada Abu Thalib paman Rasulullah dan Kan'an putra Nabi Nuh.
Hidayah Taufiqi adalah suatu kekuatan yang diberikan oleh Allah kepada manusia untuk mengamalkan dengan sungguh-sungguh apa yang telah diketahuinya.
Dengan kata lain, hidayah Taufiqi adalah hidayah dilalah, yakni Allah telah menunjukkan jalan, cara, metode, dan seterusnya sehingga seseorang yang mendapat hidayah ini selalu mudah dan tidak terbebani sedikit pun dalam menjalankan syariat Allah.

Makna dari (الصراط المستقيم) secara bahasa adalah: jalan yang tidak berbelok; dan yang dimaksud dalam ayat adalah jalan Islam.
Imam Ahmad meriwayatkan dalam Musnadnya dari an-Nawwas bin Sam’an radhiallahu anhu, dari Rasulullah shalallahu alaihi wa sallam bersabda:
ضَرَبَ اللهُ مَثَلًا صِرَاطًا مُسْتَقِيمًا، وَعَلَى جَنْبَتَيْ الصِّرَاطِ سُورَانِ، فِيهِمَا أَبْوَابٌ مُفَتَّحَةٌ، وَعَلَى الْأَبْوَابِ سُتُورٌ مُرْخَاةٌ، وَعَلَى بَابِ الصِّرَاطِ دَاعٍ يَقُولُ: أَيُّهَا النَّاسُ، ادْخُلُوا الصِّرَاطَ جَمِيعًا، وَلَا تَتَعَرَّجُوا، وَدَاعٍ يَدْعُو مِنْ فَوْقِ الصِّرَاطِ، فَإِذَا أَرَادَ يَفْتَحُ شَيْئًا مِنْ تِلْكَ الْأَبْوَابِ، قَالَ: وَيْحَكَ لَا تَفْتَحْهُ، فَإِنَّكَ إِنْ تَفْتَحْهُ تَلِجْهُ، وَالصِّرَاطُ الْإِسْلَامُ، وَالسُّورَانِ: حُدُودُ اللهِ، وَالْأَبْوَابُ الْمُفَتَّحَةُ: مَحَارِمُ اللهِ، وَذَلِكَ الدَّاعِي عَلَى رَأْسِ الصِّرَاطِ: كِتَابُ اللهِ، وَالدَّاعِي مِنِ فَوْقَ الصِّرَاطِ: وَاعِظُ اللهِ فِي قَلْبِ كُلِّ مُسْلِمٍ
“Allah telah membuat sebuah perumpamaan jalan yang lurus. Di dua sisi jalan terdapat dua pagar. Di pagar tersebut terdapat pintu-pintu yang terbuka. Dan di pintu-pintu itu terdapat tirai-tirai yang terurai. Di depan jalan itu terdapat seseorang yang berseru: ‘Wahai manusia, masuklah kalian semua ke jalan ini dan jangan lah berbelok.’ Di atas itu juga terdapat penyeru yang akan memanggil. Apabila ada seseorang yang ingin membuka pintu-pintu tersebut,penyeru di atas jalan berkata:’Celaka kamu, janganlah engkau membukanya. Jika engkau membukanya, niscaya engkau akan terperosok masuk ke dalamnya.’ Jalan itu adalah Islam. Pagar-pagar itu adalah batasan-batasan Allah. Pintu-pintu yang terbuka itu adalah perkara-perkara yang diharamkan Allah. Penyeru di depan pintu jalan adalah Kitabullah. Penyeru di atas jalan adalah pemberi peringatan dari Allah yang ada di dalam hati setiap muslim.” ( HR Ahmad )

Ayat selanjutnya menerangkan lebih lanjut jalan yang lurus yang di maksud.
صِرَٰطَ ٱلَّذِينَ أَنْعَمْتَ عَلَيْهِمْ غَيْرِ ٱلْمَغْضُوبِ عَلَيْهِمْ وَلَا ٱلضَّآلِّينَ
(yaitu) Jalan orang-orang yang telah Engkau beri nikmat kepada mereka; bukan (jalan) mereka yang dimurkai dan bukan (pula jalan) mereka yang sesat.
Mereka adalah orang-orang yang disebutkan dalam surat an-Nisa’ ayat 69-70 : “Dan barangsiapa yang mentaati Allah dan Rasul(Nya), mereka itu akan bersama-sama dengan orang-orang yang dianugerahi nikmat oleh Allah, yaitu dengan Nabi-nabi, para shiddiiqiin, orang-orang yang mati syahid, dan orang-orang saleh. Dan mereka itulah teman yang sebaik-baiknya. Yang demikian itu adalah karunia dari Allah, dan cukuplah Allah (sebagai Dzat yang) Maha mengetahui. 
Ketaatan dinyatakan sebagai kenikmatan, hal ini menunjukkan bahwa berjalan di jalan yang lurus ini terasa nikmat.
Beberapa ahli tafsir menafsirkan
 الْمَغْضُوبِ عَلَيْهِمْ
Orang-orang yang dimurkai sebagai orang-orang Yahudi. Hal ini disebabkan karena orang-orang Yahudi mengetahui kebenaran akan tetapi memeranginya sehingga mereka berhak mendapat kemarahan dari Allah Ta’ala. 
وَلَا الضَّالِّينَ
Orang orang yang tersesat adalah orang-orang Nasrani. Sedangkan orang-orang Nasrani memerangi kebenaran disebabkan kebodohan yang ada pada mereka sehingga mereka berada dalam kesesatan yang nyata.
Disebutkan dalam hadist yang dikeluarkan oleh Imam Ahmad dan Ibnu Majah dari Aisyah bahwa Rasulullah bersabda: “tidaklah orang-orang Yahudi dengki terhadap sesuatu melebihi kedengkian mereka terhadap salam dan kalimat amin (yang ada dalam Islam)”. 
Dan makna dari kalimat amin adalah Ya Allah kabulkanlah untuk kami.

Ta' Rouf Yusuf






Thursday, 26 December 2024

Pengantar Pendidikan Akhlak Mulia

Pengantar

Tujuan utama di utusnya Nabi Muhammad shallahu alaihi wa salla adalah untuk menyempurnakan akhlak mulia. Proses tersebut dilakukan Rasulullah dengan mendidik generasi terbaik umat ini. Islam hadir sebagai solusi permasalahan kehidupan. Permasalahan kehidupan di dunia dimulai dari kerusakan akhlak manusia. Oleh karena itu perbaikan kerusakan-kerusakan di muka bumi ini dimulai dengan pembenahan akhlak Mulia. Rasulullah shalallahu alaihi wa sallam bersabda,

 إِنَّمَا بُعِثْتُ لِأُتَمِّمَ صَالِحَ الْأَخْلَاقِ

“Sesungguhnya aku (Rasulullah shalallhu alaihi wa sallam) diutus untuk menyempurnakan akhlaq yang baik.” (HR. Ahmad  2/381)

Tujuan Pendidikan menurut Syed M. Naquib Al Attas adalah membentuk individu yang baik. Orang yang baik menurut beliau adalah orang yang menyadari sepenuhnya tanggung jawab dirinya kepada Tuhan Yang Haq, yang memahami dan menunaikan keadilan terhadap dirinya sendiri dan orang lain dalam masyarakatnya, yang terus berupaya meningkatkan setiap aspek dalam dirinya menuju kesempurnaan sebagai manusia yang beradab. 

Dari paparan beliau tentang orang baik maka dapat kita simpulkan bahwa pada hakikatnya pendiidkan adalah proses membentuk manusia yang baik atau dapat kita sebut manusia yang memiliki akhlak mulia. Dalam proses tersebut beliau menawarkan konsep Ta’dib atau meberikan adab. Menurut beliau Ta’dib ini adalah satu “cara Allah mendidik Nabi Nya”. Sebagaimana yang sebutkan dalam hadits

 أدبنى ربى فأحسن تأديبى 

“Tuhanku telah mendidikku, maka Ia menjadikan pendidikanku menjadi baik”.

Hadits ini dilihat dari segi tashihnya adalah hadits dhaif,  sedangkan  sanadnya  ada  yang  bersambung,  periwayatnya  adil, ada  perawi  yang majhul dan maknanya shahih. Namun meski demikian hadits ini dapat dijadikan hujjah secara tathbiqi, dan hadits ini dapat diimplementasikan sebagai sandaran sebuah hukum, dan dapat diamalkan jika ada penguat hadits lain.

Di   dalam   hadis   ini   secara   eksplisit   digunakan   istilah ta'dib (yang   diartikan pendidikan)   dari   kata addaba yang   berarti   mendidik.   Kata   ini,menurut   al-Zajjaj, dikatakan  sebagai  cara  Tuhan  mendidik  Nabi-Nya,  tentu  saja  mengandung  konsep pendidikan yang sempurna. Dengan penjelasan di atas al-Attas selanjutnya menguraikan pengertian   hadis   ini   sebagai   berikut:   "Tuhanku   telah   membuatku   mengenali   dan mengakui, dengan apa (yaitu adab) yang secara berangsur-angsur telah ditanamkan ke dalam  diriku,  tempat-tempat  yang  tepat  dari  segala  sesuatu  di  dalam  penciptaan, sehingga  hal  itu  membmbingku  ke  arah  pengenalan  dan  pengakuan  tempat  Nya  yang tepat di dalam tatanan wujud dan kepribadian dan sebagai akibatnya, Ia telah membuat pendidikanku yang paling baik" (Alatas, 1996).

Makna Adab

Dalam bahasa Arab, kata adab merupakan bentuk kata benda dari kata kerja أدب  berarti kesopanan, sopan santun, tata krama, moral, nilai-nilai, yang dianggap baik oleh masyarakat. Mengutip pernyataan Abu Isma’il al-Harawi, pengarang kitab Manazil as-Sa’irin, yang dimaksud dengan adab adalah menjaga batas antara berlebihan dan meremehkan serta mengetahui bahaya pelanggaran. 

Sedangkan menurut AbdulAziz bin Fathi As Syayid Nada mengatakan bahwa adab adalah seluruh hukum-hukum syar’I yang lima,yakni wajib, sunah, mubah, makruh dan haram. Sehingga yang dimaksud beradab adalah melaksanakan seluruh perintah Allah, baik yang hukumnya wajib maupun yang sunah dan meninggalkan seluruh larangan Nya baik yang haram maupun makruh. Adapun dalam perkara-perkara yang mubah, yang paling sempurna adalah yang dipilih Nabi Muhammad shalallahu alaihi wa sallam.

Jadi dapat kita simpulkan bahwa Adab Islam adalah kesopanan, tata krama, moral Islam dimana hal tersebut adalah segala sesuatu yang diperintahkan oleh Allah dan apa yang dilarang oleh Nya. Sebagaimana firman Allah :

وَمَا أُمِرُوا إِلَّا لِيَعْبُدُوا اللَّهَ مُخْلِصِينَ لَهُ الدِّينَ حُنَفَاءَ وَيُقِيمُوا الصَّلَاةَ وَيُؤْتُوا الزَّكَاةَ وَذَلِكَ دِينُ الْقَيِّمَةِ 

Padahal mereka hanya diperintah untuk menyembah Allah dengan ikhlas dalam beragama secara lurus, dan juga agar mereka mendirikan salat dan menunaikan zakat. Dan yang demikian itulah agama yang lurus (benar). (Q.S Al-Bayyinah: 5)

Makna Akhlak

Di dalam bahasa Arab kata “akhlak” ( أخلاق ) adalah bentuk jamak dari kata “khuluq” (خلق), yang berakar dari kata kerja “khalaqa” (خلق), yang berarti “menciptakan”. Kata “khuluq” diartikan dengan sikap, tindakan, kelakuan perangai, tabiat, adat, dan sebagainya. Kata akhlak ini mempunyai akar kata yang sama dengan kata khaliq yang bermakna pencipta dan kata makhluq yang artinya ciptaan, yang diciptakan, dari kata khalaqa, menciptakan. Dengan demikian, kata khulq dan akhlak yang mengacu pada makna “penciptaan” segala yang ada selain Tuhan yang termasuk di dalamnya kejadian manusia.

Sedangkan pengertian akhlak menurut istilah adalah kehendak jiwa manusia yang menimbulkan suatu perbuatan dengan mudah karena kebiasaan tanpa memerlukan pertimbangan pikiran terlebih dahulu. Akhlak juga merupakan sifat yang tertanam kuat dalam jiwa yang nampak dalam perbuatan lahiriah yang dilakukan dengan mudah, tanpa memerlukan pemikiran lagi dan sudah menjadi kebiasaan dan dilakukan dengan sadar dan disengaja. Oleh karena itu, sifat yang lahir dalam perbuatan yang dilakukan dengan sadar dan disengaja jika itu baik disebut akhlak terpuji/mulia (akhlak mahmudah atau akhlak al-karim), sedangkan perbuatan yang buruk disebut akhlak yang tercela/jelek (akhlak madzmumah atau akhlak asayi’ah)

Imam Ghazali mendefinisikan akhlak dengan  suatu sifat yang tertanam dengan kokoh di dalam jiwa manusia, yang menjadi sumber kahirnya perbuatan-perbuatan, tindakan-tindakan dengan gampang dan mudah tanpa membutuhkan pemikiran dan pertimbangan. Jika keadaan itu menjadi sumber lahirnya perbuatan-perbuatan yang terpuji dan indah, baik menurut akal maupun hukum, disebut akhlak yang baik (khuluq hasan). Jika keadaan itu menjadi sumber lahirnya perbuatan-perbuatan jelek dan kotor, maka ia disebut akhlak kotor (khuluq sayyi’).

Lalu bagaimana akhlak dapat didapatkan oleh seorang Manusia?

Dalil-dalil di dalam Al-Quran dan Sunnah menunjukkan bahwa ibadah yang benar sesuai dengan adab-adabnya haruslah memiliki pengaruh kepada jiwa, akhlak, dan perilaku orang yang melaksanakannya. Shalat yang merupakan rukun Islam yang paling utama setelah Tauhid, sekaligus ibadah yang memiliki kedudukan khusus di dalam Islam, satu di antara hikmah disyariatkannya disebutkan oleh Allah  Subhânahu wata`âlâ  di dalam Al-Quran, yaitu untuk mencegah pelakunya dari perbuatan keji dan mungkar. Allah  Subhânahu wata`âlâ  berfirman (yang artinya): "Bacalah apa yang telah diwahyukan kepadamu, yaitu Al-Kitab (Al-Quran), dan dirikanlah shalat. Sesungguhnya shalat itu mencegah dari (perbuatan- perbuatan) keji dan mungkar. Dan sesungguhnya mengingat Allah (shalat) adalah lebih besar (keutamaannya daripada ibadah-ibadah yang lain). Dan Allah mengetahui segala yang kalian kerjakan." [QS. Al-`Ankabût: 45]

Ketika Nabi  Shallallâhu `alaihi wasallam  dikabarkan tentang seorang wanita yang rajin melakukan shalat malam, tapi di pagi hari sering menyakiti tetangganya, beliau bersabda, "Perempuan itu di Neraka." Itu seakan menunjukkan bahwa hakikat shalat adalah pembersihan dan penyucian diri dari akhlak-akhlak tercela dan sifat-sifat buruk, sehingga barang siapa yang tidak mendapatkan manfaat dengan shalatnya pada sisi ini maka seolah-olah ia belum memetik buah terpenting dari shalatnya.

Puasa pun demikian halnya. Ia merupakan sarana pendidikan diri, sekaligus penghalang dari syahwat-syahwat terlarang, sebelum menjadi penghalang dari Makan dan minuman, minuman, dan keinginan-keinginan yang dibolehkan. Oleh karena itu, dalam sebuah hadits, Rasulullah  Shallallâhu `alaihi wasallam  bersabda, "Barang siapa yang tidak meninggalkan perkataan dan perbuatan dusta maka Allah tidak memerlukan (puasanya) saat ia meninggalkan Makan dan minuman dan minumannya."

Al-Quran juga menyebutkan buah yang paling agung dari puasa, yaitu dalam firman Allah  Subhânahu wata`âlâ (yang artinya): "Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kalian berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kalian agar kalian bertakwa." [QS. Al-Baqarah: 183]

Dalam konteks yang sama, Nabi Shallallâhu `alaihi wasallam  menjelaskan bahwa barang siapa yang berpuasa karena menjalankan perintah Allah, maka ia harus istimewa dalam akhlak dan kesabarannya. Beliau bersabda, "Maka apabila salah seorang dari kalian berpuasa pada suatu hari, janganlah ia berkata-kata kotor dan janganlah ia berteriak-teriak. Jika seseorang mencelanya atau memeranginya hendaklah ia berkata: 'Aku sedang berpuasa'."

Dalam kehidupan sehari-hari, kita melihat sebagian orang melakukan hal yang sama sekali bertentangan dengan ajaran hadits ini. Ketika berpuasa, dada mereka menjadi sempit dan akhlak mereka menjadi buruk. Baru saja ada sedikit perselisihan paham, mereka langsung marah, mengangkat suara, dan menyakiti orang lain. Tapi jika dicela, mereka mengatakan bahwa mereka sedang berpuasa!! Apakah orang-orang seperti ini benar-benar telah mendapatkan buah dari puasa? Apakah mereka telah melaksanakan arahan Nabi  Shallallâhu `alaihi wasallam?

Jika Anda melihat ibadah zakat, Anda juga mendapatkan bahwa zakat pada dasarnya disyariatkan untuk membersihkan jiwa manusia dari kotoran-kotoran kebakhilan dan kerakusan, sekaligus membiasakan diri menjadi dermawan, suka memberi, gemar membantu, dan ikut merasakan penderitaan orang lain. Itulah sebabnya, Allah Subhânahu wata`âlâ  berfirman (yang artinya): "Ambillah zakat dari sebagian harta mereka yang dengan zakat itu engkau membersihkan dan menyucikan diri mereka." [QS. At-Taubah: 103]. Dengan demikian, zakat bukanlah pajak yang diambil paksa dari manusia, melainkan penanaman rasa belas-kasih dan kasih sayang terhadap sesama, sekaligus penguatan hubungan kenal-mengenal dan kecintaan antar anggota masyarakat.

Adapun ibadah haji yang dibebankan kepada kaum muslimin yang mampu, sesungguhnya bukanlah sekedar sebuah perjalanan menuju tempat suci yang dicintai oleh hati kaum muslimin. Bukan itu semata! Ia pada dasarnya merupakan perjalanan spiritual yang penuh dengan makna-makna mulia tentang keimanan, peningkatan kualitas ruhiyah, dan ketinggian akhlak. Oleh karena itu, tentang ibadah yang satu ini, Allah  Subhânahu wata`âlâ  berfirman (yang artinya): "(Musim) haji adalah beberapa bulan yang dimaklumi. Barang siapa yang menetapkan niatnya dalam bulan itu untuk mengerjakan haji, maka tidak boleh berkata atau berbuat kotor (rafats), berbuat fasik (dosa), dan berbantah-bantahan di dalam masa mengerjakan haji. Dan apa yang kalian kerjakan berupa kebaikan, niscaya Allah mengetahuinya. Berbekallah, dan sesungguhnya sebaik-baik bekal adalah takwa. Dan bertakwalah kepada-Ku, hai orang-orang yang berakal." [QS. Al-Baqarah: 197]

Rasulullah Shallallâhu `alaihi wasallam pun selalu mengingatkan para shahabat beliau dalam melaksanakan haji, "Berlaku tenanglah, berlaku tenanglah."

Beliau juga menyampaikan pentingnya menghias diri dengan akhlak mulia dalam menunaikan haji, sekaligus memberikan kabar gembira berupa pahala yang besar untuk orang yang memenuhinya. Beliau bersabda, "Barang siapa yang menunaikan haji dengan tidak berkata atau berbuat kotor dan tidak pula berbuat fasik (dosa) niscaya akan keluar dari dosanya seperti pada hari ia dilahirkan oleh ibunya."

Itulah ibadah-ibadah utama di dalam Islam. Dalil-dalil yang telah kita sebutkan tentang keutamaan dan anjuran melaksanakannya dengan jelas menunjukkan betapa lekat dan kuatnya hubungan antara agama dan akhlak, antara ibadah dan perilaku. Sesungguhnya ibadah-ibadah tersebut, walaupun berbeda-beda dari segi bentuk dan penampilannya, tetapi semuanya bermuara pada tujuan utama yang telah digambarkan oleh Rasulullah  Shallallâhu `alaihi wasallam  dalam sabda beliau: "Sesungguhnya aku diutus hanyalah untuk menyempurnakan kemuliaan akhlak."

Imam Al-Ghazâli berkata, "Maka shalat, puasa, zakat, haji, dan ibadah-ibadah lainnya adalah tangga-tangga menuju kesempurnaan yang dicita-citakan. Semuanya laksana sungai-sungai untuk bersuci yang akan melindungi kehidupan dan meninggikan derajat hidup manusia. Oleh karena itu, sifat-sifat mulia yang berhubungan atau tumbuh dari ibadah-ibadah tersebut memiliki kedudukan yang tinggi di dalam agama Allah. Jika seseorang tidak mengambil manfaat dari ibadah-ibadah itu untuk menyucikan hatinya, serta mengasah hubungannya dengan Allah dan manusia, berarti ia telah gagal."

Jadi dapat kita simpulkan bahwa pelaksanaan syariat seluruhnya atau Adab yang benar akan menghasilkan akhlak yang kuat tertanam di dalam jiwa manusia. Sehingga Akhlakul karimah adalah merupakan hasil dari proses riyadhoh berupa pengamalan Adab-adab Islam.

Misalkan di dalam Adab masuk ke kamar mandi di ajarkan doa 

اللّٰهُمَّ إنِّي أَعُوذُ بِك من الْخُبُثِ وَالْخَبَائِثِ 

 “Ya Allah, aku berlindung kepada-Mu dari godaan setan laki-laki dan setan perempuan.”

Doa ini dibaca oleh Rasulullah Shallallâhu `alaihi wasallam  ketika ia hendak masuk ke kamar kecil/wc/toilet. Redaksi doa ini dapat dirujuk dalam Kitab Jami Shahih Bukhari dan Jami Shahih Muslim melalui riwayat sahabat Anas bin Malik ra. Ada baiknya doa masuk kamar kecil/wc/toilet ini diawali dengan pembacaan basmalah. Pembacaan basmalah dapat menutup aurat manusia dari pandangan jin dan makhluk halus lainnya. Rasulullah bersabda sebagai berikut: 

وروينا عن علي رضي الله عنه أن النبي صلى الله عليه وسلم قال ستر ما بين أعين الجن وعورات بني آدم إذا دخل الكنيف أن يقول بسم الله رواه الترمذي 

“Diriwayatkan dari Sayyidina Ali radhiyallahu anhu, Rasulullah Shallallâhu `alaihi wasallam  bersabda, ‘Penghalang pandangan jin dan aurat manusia apabila ia memasuki kamar kecil/wc/toilet adalah bacaan ‘bismillāh,’” (HR At-Tirmiżi).

Disamping itu dalam hati manusia di ajarkan akhlak muroqobatullah ( merasa di awasi Allah ) walaupun sedang berada di tempat yang sangat privat. Maka jika adab ini dilakukan oleh seorang muslim, maka perasaan merasa selalu di awasi oleh Allah ini akan tertanam kuat sehingga akan menimbulkan rasa khauf jika berbuat maksiat kepada Allah.

Maka dari paparan di atas dapat kita simpulkan bahwan Ibadah dan Adab-adab Islami yang dilakukan dengan ikhlas dan benar secara istiqomah akan menghasilkan akhlakul karimah. Maka jika kita merujuk kepada ulama salaf, mereka sangat serius dalam menanamkan adab-adab Islami kepada anaknya secara khusus atau anak-anak kaum muslimin secara umum.

Al Imam Abu Abdillah Sufyan Ats Tsauri rahimahullahu ta’ala, seorang tabi’ tabi’in, beliau berkata: “Mereka-mereka dulu (para salaf) tidak mengeluarkan anak-anak mereka untuk pergi menuntut ilmu hingga anak-anaknya telah diajar adab terlebih dahulu dan memperbanyak ibadah 20 tahun”

Imam Abdullah bin Mubarak rahimahullahu ta’ala (seorang tabi’ tabi’in)., salah seorang ulama yang mengumpulkan seluruh cabang ilmu, dari ilmu hadits, qur’an, fiqh dan lain-lain. Beliau adalah sumber rujukan di samping keutamaan yang lain dari sisi ibadah, infak, jihad, dll), beliau mengatakan: “Saya menuntut adab selama 30 tahun dan saya menuntut ilmu cuma 20 tahun dan mereka dulu mempelajari adab terlebih dahulu sebelum mempelajari ilmu”.

Imam Malik rahimahullah pernah berkata pada seorang pemuda Quraisy, “Pelajarilah adab sebelum mempelajari suatu ilmu.”

Sebagaimana Yusuf bin Al Husain juga berkata,

بالأدب تفهم العلم

“Dengan mempelajari adab, maka engkau jadi mudah memahami ilmu.”

Imam Malik juga pernah berkata, “Dulu ibuku menyuruhku untuk duduk bermajelis dengan Robi’ah Ibnu Abi ‘Abdirrahman -seorang fakih di kota Madinah di masanya-. Ibuku berkata

تعلم من أدبه قبل علمه

“Pelajarilah adab darinya sebelum mengambil ilmunya.”

Sangat besar perhatian mereka akan penanaman adab-adab Islami tentunya disebabkan karena mereka memahami betapa pentingnya penanaman adab ini dalam proses Pendidikan akhlak mulia.

Ada beberapa prinsip yang dapat kita pegang sebagai prinsip-prinsip dalam Pendidikan Adab:

  1. Menanamkan Aqidah

Aqidah adalah pondasi penting di dalam membangun kekokohan pribadi anak. Akidah yang ditanamkan secara benar akan tertanam dalam kepribadian anak. Akidah ini juga yang akan menjadi dasar bagi sang anak dalam menjalani kehidupannya. Akidah ini ibarat sebuah akar dalam sebatang pohon. Jika akarnya kuat, maka pohon pun akan tumbuh dengan kokoh, batangnya sehat, rantingnya kuat daunnya rimbun, buahnya pun manis.

Aqidah juga menjadi sumber kebaikan seseorang. Begitu manusia yang memiliki akidah yang kokoh, maka dia akan menjadi pribadi yang kuat dalam pelaksanaan hukum Islam dan adab-adab islami. Menjadikan setiap gerak dalam hidupnya sebagai usaha untuk meraih ridho Allah subhanahu wa ta’alla sehingga dia akan konsisten memegang dan melaksanakan syariat dengan totalitas.

Diantara cara menanamkan aqidah juga dengan membiasakan anak mengucapkan dan menghayati kalimat thoyibah. Seperti membiasakan membaca basmalah sebelum memulai sesuatu, hamdalah setelah menyelesaikan sesuatu dan sebagainya. Dengan mengucapkan kalimat Thoyibah maka akan menjadi pengendali tersendiri bagi anak sehingga sang anak senantiasa menyandarkan segala sesuatu kepada Allah.

  1. Mengenalkan kepribadian dan sosok Rasulullah shalallahu alaihi wa sallam

Mengajarkan dan mengenalkan kepribadian diri dan keteladanan keseharian Rasulullah shalallhu alaihi wa sallam. Hal ini dilakukan agar anak mengenal bagaimana sikap yang harus diteladani. Anak pun akan memiliki standar yang jelas terkait adab yang harus diikuti, yaitu Rasulullah. Lebih dari itu akan lahir kecintaan anak kepada keagungan sosok Rasulullah Shalallahu alaihi wa sallam. Maka dengan begitu anak akan menjadikan Rasulullah sebagai suri tauladannya dalam kehidupan.

  1. Teladan Orang Tua dan Pendidik

Untuk merekatkan nasehat supaya terwujud dalam kepribadian anak maka teladan adalah salah satu unsur terpenting. Bagaimana mungkin anak akan memiliki adab yang baik jika orangtua tidak mencontohkannya, atau mungkin apa yang disampaikan orangtua berbeda dengan apa yang dilakukan. Maka jika hal ini terjadi justru akan menimbulkan kebingungan tersendiri bagi anaknya. 

  1. Lingkungan yang Baik

Lingkungan yang baik disekitar anak sangat berdampak dalam pembiasaan perilaku baik anak. Jika di rumah kebiasaan baik sudah ditanamkan, tetapi di lingkungan masyarakat justru mengajarkan sebaliknya, maka anak akan cenderung mengikuti yang biasa dilakukan teman-temannya. Apalagi jika kebiasaan buruk itu termasuk yang menyenangkan dan melenakan, maka bukan tidak mungkin anak akan sangat mudah mengikutinya. Termasuk di sini adalah orangtua juga harus memilihkan teman bagi anak, dengan siapa dia bergaul dan bersahabat maka itu akan menentukan kebiasaanya. Rasulullah shalallhu alaihi wa sallam mengingatkan terkait hal ini dalam sabdanya ;

“Permisalan teman yang baik dan teman yang buruk ibarat seorang penjual minyak wangi dan seorang pandai besi. Penjual minyak wangi mungkin akan memberimu minyak wangi, atau engkau bisa membeli minyak wangi darinya, dan kalaupun tidak, engkau tetap mendapatkan bau harum darinya. Sedangkan pandai besi, bisa jadi (percikan apinya) mengenai pakaianmu, dan kalaupun tidak engkau tetap mendapatkan bau asapnya yang tak sedap.” (HR. Bukhari)

Diantara lingkungan yang mempengaruhi adalah media social. Menjadi keharusan bagi kita untuk mengontrol penggunaan media elektronik maupun media sosial. Kontrol dan pendampingan harus senantiasa dilakukan oleh orangtua. Jangan pernah membiarkan anak main gadget ataupun nonton TV sendiri tanpa dikontrol dan tanpa pendampingan.


Dalam Prakteknya orang tua dan pendidik dapat melaksanakan beberapa hal untuk menanamkan adab-adab Islami ini, diantaranya :

  1. Menanamkan Pendidikan dengan nasehat dan teladan

Sahabat Jabir radhiyallah’anhu berkata, “ Aku berbaiat kepada Rasuuah saw untuk meaksanakan sholat, membayar zakat dan menasehati setiap Muslim ( HR Bukhari Muslim )

Sungguh telah ada dalam diri Rasulullah suri teadan yang baik ( Al Ahzab : 21 )

  1. Pembiasaan, perhatian dan pemantauan

Diceritakan pula oleh Abu Hurairah: “(Ketika) Hasan (cucu Nabi saw.) (masih kecil), ia pernah mengambil sebutir kurma dari kurma sedekah (zakat), lalu menjadikannya (masuk) ke dalam mulutnya, maka Nabi saw.  memerintahkan: Kikh kikh. “muntahkan, muntahkan.” agar membuangnya kemudian beliau bersabda: “Apakah kau tidak merasa bahwa kami tidak Makan dan minum sedekah.” (HR. Al-Bukhari dari Abi Hurairah).

  1. Memberikan Hadiah dan hukuman yang layak

Kadang Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam memuji dan memberikan hukuman jika diperlukan. Beliau bersabda :

 عَلِّقُوا السَوْطَ حَيْثُ يَرَاهُ أَهْلُ البَيْتِ، فَإِنَّهُ أدَبٌ لَهُمْ “

Gantungkanlah cambuk di tempat yang bisa dilihat oleh anggota keluarga. Sesungguhnya itu akan menjadi pengajaran bagi mereka” ( Sahihul Jami’ )

  1. Mensholehkan diri dan senantiasa mendoakan anak

Allah Ta’ala berfirman dalam surat al kahfi bahwa Beliau menjaga keturunan orang sholeh.

وَأَمَّا الْجِدَارُ فَكَانَ لِغُلَامَيْنِ يَتِيمَيْنِ فِي الْمَدِينَةِ وَكَانَ تَحْتَهُ كَنْزٌ لَهُمَا وَكَانَ أَبُوهُمَا صَالِحًا فَأَرَادَ
رَبُّكَ أَنْ يَبْلُغَا أَشُدَّهُمَا وَيَسْتَخْرِجَا كَنْزَهُمَا رَحْمَةً مِنْ رَبِّكَ

Adapun dinding rumah adalah kepunyaan dua orang anak yatim di kota itu, dan di bawahnya ada harta benda simpanan bagi mereka berdua, sedang ayahnya adalah seorang yang saleh, maka Tuhanmu menghendaki agar supaya mereka sampai kepada kedewasaannya dan mengeluarkan simpanannya itu, sebagai rahmat dari Tuhanmu.” (QS. Al Kahfi : 82)

Disamping itu wajib bagi pendidik untuk mendoakan anak-anak yang dididik. 

Nabi Ibrahim ‘alaihis salaam berkata,

رَبِّ هَبْ لِي مِنَ الصَّالِحِي

“Ya Rabbku, anugrahkanlah kepadaku (seorang anak) yang termasuk orang-orang yang saleh”.  (QS. Ash Shaffaat: 100)

Oleh karena itu dalam buku ini akan penulis sampaikan adab-adab Islami berdasarkan dalilnya. Disamping itu akan kami berikan table muntabaah sebagai pembiasaan bagi anak dan orangtua. Disamping hal tersebut Muntabaah juga dapat dijadikan sebagai acuan dan komitmen bersama untuk mensholehkan orangtua dan anak.

Al Quran dan Sunah Sebagai Pedoman Akhlak Mulia

Sayyidah Aisyah radhiyallahu`anhā ketika ditanya mengenai akhlak Rasulullah shallallāhu `alaihi wa sallam, beliau menjawab: “Akhlak rasulullah adalah Al Quran” (HR Ahmad).

كَانَ خُلُقُهُ الْقُرْآنَ 

Hadits ini menunjukkan bahwa kehidupan Rasulullah merupakan manifestasi riil Al Quran dalam kehidupan nyata. Maka sebagai seorang muslim maka wajib bagi kita untuk menjadikan Alquran ini sebagai pedoman  hidup dan pendidikan akhlak. 

Allah subhanahu wa ta'ala berfirman dalam surat al-isra ayat ke 9 ;

إِنَّ هَٰذَا ٱلْقُرْءَانَ يَهْدِى لِلَّتِى هِىَ أَقْوَمُ وَيُبَشِّرُ ٱلْمُؤْمِنِينَ ٱلَّذِينَ يَعْمَلُونَ ٱلصَّٰلِحَٰتِ أَنَّ لَهُمْ أَجْرًا كَبِيرًا


"Sesungguhnya Al Quran ini memberikan petunjuk kepada (jalan) yang lebih lurus dan memberi khabar gembira kepada orang-orang Mu'min yang mengerjakan amal saleh bahwa bagi mereka ada pahala yang besar, "( Al Isra :9 ) 

Alquran membimbing dan memberikan petunjuk kepada manusia menuju jalan yang lebih lurus lebih selamat yang membuat manusia mendapat keberuntungan hakiki di dunia dan akhirat. Jalan yang lebih lurus dalam ayat tersebut adalah jalan yang datang dari Allah subhanahu wa ta'ala dan jalan tersebut merupakan pilihan dari Allah subhanahu wa ta'ala. 

Alquran adalah kitab Allah yang didalamnya tidak ada kesalahan sama sekali dan dia dapat menunjukkan kepada jalan yang lurus, maka keberuntungan Hakiki seorang manusia di dunia dan akhirat adalah ketika dia mengikuti petunjuk Alquran. Seorang manusia dapat membuahkan hasil mendapatkan petunjuk Jika dia menjadikan Alquran ini sebagai ajaran yang dipegang teguh dalam kehidupannya. Di dalam Alquran dijelaskan tentang nilai akhlak-akhlak mulia yang harus dimiliki seorang manusia dan perilaku perilaku tercela yang harus dijauhi oleh seorang manusia. Sehingga seorang yang mengaplikasikan akhlak-akhlak mulia dalam Al Quran akan mendapat derajat yang tinggi. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

إِنَّ مِنْ أَحَبِّكُمْ إِلَيَّ وَأَقْرَبِكُمْ مِنِّي مَجْلِسًا يَوْمَ القِيَامَةِ أَحَاسِنَكُمْ أَخْلَاقًا

“Sesungguhnya yang paling aku cintai di antara kalian dan paling dekat tempat duduknya denganku pada hari kiamat adalah mereka yang paling bagus akhlaknya di antara kalian.” (HR. Tirmidzi) 

Ada berapa kaidah yang bisa dipegang dalam kita menjadikan Alquran ini sebagai pedoman kita dalam pendidikan akhlak mulia:

1. Setiap perintah Allah dalam Alquran, untuk beriman kepada Allah dan rasulnya, mengikuti ajarannya  berbuat adil, melakukan kebaikan hingga perintah-perintah yang berkaitan dengan makan dan minum semua mengandung nilai-nilai akhlak mulia yang manfaatnya kembali kepada manusia, baik sebagai individu keluarga masyarakat maupun negara untuk saat ini maupun di masa yang akan di yang akan datang . 

2. Setiap larangan dalam Alquran, mulai dari larangan untuk tidak menyekutukan Allah, larangan membangkang kepada RasulNya, berbuat dzolim, melakukan perbuatan keji hingga larangan-larangan yang berkaitan dengan kehidupan seperti larangan memakan riba, makan harta dengan cara yang batil, memakan daging yang disembelih dengan tanpa menyebut nama Allah dan larangan memakan barang haram, mengandung nilai Akhlak Yang Mulia. Tujuan larangan ini adalah untuk kemaslahatan umat manusia baik kapasitasnya sebagai individu, keluarga, masyarakat maupun negara. 

3. Setiap hukum yang terkandung dalam Alquran yang disyariatkan kepada umat manusia semuanya mengandung nilai-nilai akhlak yang luhur. Jika hukum-hukum tersebut diaplikasikan dalam kehidupan maka manfaatnya akan kembali kepada manusia yaitu terciptanya rasa aman dan tentram pada diri dan seluruh lapisan masyarakat 

4.Setiap berita dan kisah yang disampaikan Alquran bertujuan agar mendidik manusia memiliki akhlak mulia dan menjauhi perilaku tercela sebagaimana terdapat dalam Ibrah yang dapat dipetik dari setiap cerita atau kisah yang terdapat dalam Alquran. 

5. Setiap pembicaraan tentang surga dan semua nikmat yang dijanjikan oleh Allah kepada hambanya yang beriman juga pembicaraan tentang neraka yang siksanya bagi setiap orang yang kafir, pada dasarnya bertujuan untuk mengajak manusia untuk berakhlak mulia karena dengan berakhlak mulia lah seseorang dapat memperoleh surga dan terhindar dari siksa neraka.

6. Setiap ajakan untuk berjihad fisabilillah, rela berkorban dengan harta dan jiwa pada hakekatnya adalah ajakan untuk berakhlak mulia karena jihad bertujuan agar agama Allah tetap tinggi dan manusia tidak menyembah selain Allah dan tetap mengikuti ajaran Nabi. 

7. Setiap pembicaraan tentang setan dan bujukannya rayuannya, godaannya serta permusuhan nya dengan umat manusia juga ancaman siksa yang pedih bagi mereka yang mengikuti setan, pada dasarnya adalah ajakan untuk berakhlak mulia yaitu dengan menempatkan setan sebagai musuh yang harus diperangi dan segala tipu dayanya harus dihancurkan. Sungguh beruntung lah masyarakat yang selalu memerangi setan dan golongannya. 

Semua petunjuk yang terkandung dalam Al Quran menuntun manusia untuk berakhlak mulia. Seluruh kandungan tersebut adalah petunjuk dari Allah, baik yang lahir maupun batin. Seseorang yang mengikuti petunjuk Al Quran dengan konsisten akan melatih manusia memiliki akhlak terpuji dan memiliki sikap selalu menjauhi menjauhi semua perilaku tercela. Maka Ibadah dengan adab-adabnya sesuai dengan arahan Al Quran akan mampu menanamkan akhlak mulia yang akan tertanam dalam diri seorang mukmin.

Ta'Rouf Yusuf, S.Pd

Sunday, 8 December 2024

Makna Syahadat Tauhid ( Kajian Kitab Sulam Taufiq Bag 3)

Makna Syahadatain
فَصْلٌ: في مَعْنَى الشَّهادَتَيْنِ

فَمِمّا يَجِبُ عِلْمُهُ واعْتِقادُهُ مُطْلَقًا، والنُّطْقُ به في الحالِ إنْ كانَ كافِرًا، وإلّا ففي الصَّلاةِ، الشَّهادَتانِ وهُما: "أشْهَدُ أنْ لا إلٰهَ إلّا اللهُ، وأشْهَدُ أنَّ مُحَمَّدًا رَسُولُ اللهِ"، صلى الله عليه وسلم.

مَعْنَى الشَّهادَةِ الأُولَى: ومَعْنَى أشْهَدُ أنْ لا إلٰهَ إلّا اللهُ: أنْ تَعْلَمَ وتَعْتَقِدَ وتُؤْمِنَ وتُصَدِّقَ أنْ لا مَعْبُودَ بِحَقٍّ في الوُجُودِ إلّا اللهُ، الواحِدُ، الأحَدُ، الأوَّلُ، القَدِيمُ، الحَيُّ، القَيُّومُ، الباقِي، الدائِمُ، الخالِقُ، الرّازِقُ، العالِمُ، القَدِيرُ، الفَعّالُ لما يُرِيدُ، ما شاءَ اللهُ كانَ وما لم يَشَأْ لم يَكُنْ، ولا حَوْلَ ولا قُوَّةَ إلّا بِاللهِ العَلِيِّ العَظِيمِ، مَوْصُوفٌ بِكُلِّ كَمالٍ، مُنَزَّهٌ عن كُلِّ نَقْصٍ، ﴿ لَيْسَ كَمثْلِهِ شَيْءٌ وهُوَ السَّمِيعُ البَصِيرُ ﴾، فهو القَدِيمُ وما سِواهُ حادِثٌ، وهو الخالِقُ وما سِواهُ مَخْلُوقٌ، وكَلامُهُ قَدِيمٌ [أي بِلا ابْتِداءٍ] كَسائِرِ صِفاتِهِ، لِأنَّهُ سُبْحانَهُ مُبايِنٌ لِجَمِيعِ المَخْلُوقاتِ في الذّاتِ والصِّفاتِ والأفْعال، [ومَهْما تَصَوَّرْتَ بِبالِك، فَاللهُ تَعالَى لا يُشْبِهُ ذلِك]، سُبْحانَهُ وتَعالَى عَمّا يَقُولُ الظّالِمُونَ عُلُوًّا كَبِيرًا.

Pasal Makna Dua Kalimat Syahadat *
Diantara perkara yang wajib untuk diketahui dan diyakininya secara mutlak adalah dua kalimat syahadat yang wajib ia ucapkan disaat itu juga apabila ia kafir dan didalam sholat apabila ia muslim.**
Dua kalimat syahadat itu adalah "Aku bersaksi bahwa tiada tuhan yang berhak untuk disembah dengan sebenar-benarnya kecuali hanya Allah dan bahwasanya nabi Muhammad shalallahu alaihi wa sallam adalah utusanNya."
Adapun ma’na أشهد ان لا اله الا الله adalah engkau mengetahui, meyakini, mempercayai dan membenarkan*** bahwasanya tidak ada tuhan yang berhak untuk disembah dengan sebenar-benarnya didalam wujud kecuali hanya Allah.
Yang maha esa, yang maha tunggal, yang maha pertama, yang maha terdahulu, yang maha hidup, yang maha kekal, yang maha abadi, yang maha pencipta, yang maha memberi rizqi, yang maha mengetahui, yang maha kuasa, yang maha memperbuat pada sesuatu yang dikehendaki.
Apapun yang diinginkanNya wujud, maka akan terwujud. Dan apapun yang tidak diinginkanNya wujud, maka tidak akan terwujud. 
Dan tidak ada daya dan upaya kecuali dengan pertolonganNya yang maha tinggi lagi maha agung. ****
Dia bersifat dengan semua sifat kesempurnaan dan disucikan dari semua kekurangan dan tidak ada sesuatu apapun yang menyamaiNya dan Dia maha mendengar lagi maha melihat.
Dia adalah terdahulu dan selainNya adalah baru. Dan Dia adalah yang menciptakan dan selainNya adalah yang diciptakan.
KalamNya adalah terdahulu sebagaimana sifat-sifatNya karena sesungguhnya Dia (maha suci Dia) berbeda dengan seluruh makhluk didalam dzat, sifat dan perbuatan.
Maha suci dan maha tinggi Dia dari apa-apa yang diucapkan oleh orang-orang yang zholim dengan ketinggian yang besar.
-------
* Keutamaan Syahadatain
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Siapa yang bersaksi bahwa tiada Ilah (yang berhak diibadahi) kecuali Allah yang Esa, tiada sekutu bagi-Nya; dan bahwa Muhammad adalah hamba dan Rasul-Nya; dan bahwa Isa adalah hamba Allah, Rasul-Nya, dan kalimat-Nya yang sampaikan kepada Maryam serta ruh dari-Nya; dan bersyahadat pula bahwa surga dan neraka adalah benar adanya, maka Allah akan memasukkannya ke dalam surga, seberapapun amal yang sudah diperbuatnya.” (Muttafaq ‘Alaih)
Dan dalan Shahih Muslim dan lainnya, hadits marfu’ dari Utsman radliyallah ‘anhu,
مَنْ مَاتَ وَهُوَ يَعْلَمُ أَنَّهُ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ دَخَلَ الْجَنَّةَ
“Barangsiapa yang meninggal sedangkan dia mengetahui makna La Ilaha Illallah pasti masuk surga.” (HR. Muslim)
Dari Abu Hurairah radliyallah ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:
أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَأَنِّي رَسُولُ اللَّهِ لَا يَلْقَى اللَّهَ بِهِمَا عَبْدٌ غَيْرَ شَاكٍّ فِيهِمَا إِلَّا دَخَلَ الْجَنَّةَ
“Saya bersaksi bahwa tiada tuhan (yang berhak diibadahi) selain Allah dan aku adalah utusan Allah, tiada-lah seorang hamba bertemu Allah (meninggal dunia) dengan membawa keduanya tanpa ada keraguan sedikitpun pasti ia akan masuk surga.” (HR. Muslim)
Dari ‘Ubadah bin al Shamit radliyallah ‘anhu berkata: Aku mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Siapa yang bersaksi bahwa tiada tuhan (yang berhak diibadahi) selain Allah dan Muhammad adalah utusan Allah, maka Allah mengharamkan neraka atasnya.” (HR. Muslim)
Hadits-hadits di atas menunjukkan bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam mencukupkan dua kalimat syahadat untuk para sahabat. Yaitu untuk mengucapkannya, mengamalkan arahannya, lalu melaksanakan konsekuensinya berupa taat kepada Allah dan Rasul-Nya, dan melaksanakan segala macam ibadah, selalu mentauhidkan Allah ‘Azza wa Jalla, dan menjauhi kesyirikan.
* Setiap orang yang lahir pada dasarnya adalah muslim, sehingga tidak perlu melakukan syahadat ulang. Dalam aqidah Islam, tidak ada orang yang lahir dalam keadaan kafir. Sebab jauh sebelum bayi itu lahir, Allah Subhanahu wa ta'alla telah meminta mereka untuk berikrar tentang masalah tauhid, yaitu mengakui bahwa Allah adalah tuhannya.
Di dalam Al-Quran, hal ini ditegaskan sehingga tidak ada alasan untuk mengatakan bahwa bayi lahir itu dalam keadaan kafir.
Dan, ketika Tuhanmu mengeluarkan keturunan anak-anak Adam dari sulbi mereka dan Allah mengambil kesaksian terhadap jiwa mereka, "Bukankah Aku ini Tuhanmu?" Mereka menjawab, "Betul, kami menjadi saksi." agar di hari kiamat kamu tidak mengatakan, "Sesungguhnya kami adalah orang-orang yang lengah terhadap ini. " (QS Al-A'raf: 172 )
Rasulullah Shalallahu alaihi wa sallam bersabda, "Setiap anak dilahirkan dalam keadaan fitrah, kecuali orang tuanya yang menjadikannya Yahudi, Nasrani atau Majusi." (HR Bukhari)
Maka anak-anak yang beragama non Islam itu pada dasarnya adalah anak korban pemurtadan dari orang tuanya. Sebab pada dasarnya anak itu muslim sejak dari perut ibunya. Dan lahir dalam keadaan fitrah yang berarti muslim.
Sedangkan bila orang tuanya muslim, maka tidak ada proses pengkafiran. Dan karena itu tidak ada kewajiban untuk masuk Islam dengan berikrar mengucapkan dua kalimat syahadat
Seorang yang dibesarkan menjadi nonmuslim, ketika sadar dan ingin masuk Islam, maka cukuplah baginya untuk mengucapkan dua kalimat syahadat pada dirinya sendiri. Di dalam hatinya itu dia mengingkarkan bahwa dirinya menyatakan tidak ada tuhan yang berhak disembah kecuali Allah Subhanahubwa ta'alla. Juga mengikrarkan bahwa Nabi Muhammad Shalallahu alaihi wa salla adalah rasul-Nya.
Adapun syahadat itu harus disaksikan oleh orang lain, sama sekali bukan merupakan syarat sahnya syahadat itu sendiri. Meski banyak para shahabat Nabi ketika masuk Islam yang datang menemui beliau, bukan berarti syarat masuk Islam itu harus berikrar di muka orang lain.
Tindakan mereka sekedar menegaskan secara formal bahwa dirinya sudah masuk Islam, serta menyatakan ikrar untuk membela dan memperjuangkan agama Allah.
Banyak di antara shahabat yang ketika masuk Islam pertama kali tidak di hadapan beliau Shalallahu alaihibwa sallam. Ikrar atas syahadat maknanya adalah mengumumkan kepada khalayak bahwa dirinya kini telah berganti agama dari non muslim menjadi muslim. Ikrar ini berfungsi untuk merubah pandangan umum sehingga mereka bisa memperlakukannya sebagai muslim.
Namun dalam kondisi tertentu, pengumuman atas ke-Islaman diri itu tidak mutlak harus dilakukan. Misalnya seperti yang dahulu dialami oleh Rasulullah dan para shahabat di masa awal dakwah, banyak di antara mereka yang merahasiakan ke-Islamannya. Namun syahadat mereka tetap syah dan mereka resmi dianggap sebagai muslim.
Di hari ini pun bila ada seserorang yang karena pertimbangan tertentu ingin merahasiakan ke-Islamannya, maka dia sudah syah menjadi muslim dengan bersyahadat tanpa disaksikan siapapun. Dan sejak itu dia terhitung mulai menjadi muslim yang punya kewajiban shalat, puasa, zakat dan lain-lain.
Syahadatain itu tidak mensyaratkan harus dilakukan di depan imam, tokoh, kiayi atau ulama. Tanpa adanya kesaksian mereka pun syahadat itu sudah sah dan dia sudah menjadi muslim dengan sendirinya.
Imam Nawawi Al Bantani menjelaskan syarat-syarat seseorang mengucapkan dua kalimah syahadat untuk masuk Islam
adalah:
1.
Diucapkan secara berturut-turut, artinya ketika mengucapkan dua
kalimah syahadat maka tidak disela-selai atau dipisah waktu yang lama antara keduanya.
2. Diucapkan secara tertib atau urut, artinya mengucapkan Asyhadu An
Laa Ilaaha Illa Allah, kemudian baru, Asyhadu Anna Muhammadan Rasulullah. Tidak boleh sebaliknya.
3. Diucapkan dengan Bahasa Arab bagi orang yang mampu
mengucapkannya disertai tahu maknanya. Ini berdasarkan pernyataan
dari Syeh Ahmad az-Zahid dan Allamah Muhammad ar-Romli.
4. Harus mengulangi lafadz “أشھد ” jika tidak menyebutkan huruf athof
 (و). Apabila menyebutkannya maka cukup mengucapkan lafadz
“أشھد ” yang pertama saja.
*** Seseorang harus mengetahui makna syahadatain, meyakini kebenaran isi nya, mengimani dalam hatinya dan membenarkannya dengan melaksanakan konsekuensi dua kalimat syahadat.
Karena itulah, ketika seorang nonmuslim mengucapkan dua kalimat syahadat secara dzahir dia dilindungi dan darahnya dijaga sehingga dia diuji dan dilihat setelah itu. Jika dia istiqamah di atas agama islam dan konsisten dengan tauhidnya serta mengamalkan ajaran Islam, maka dia sebagai muslim. Dia mendapat hak dan kewajiban sebagaimana kaum muslimin lainnya. Jika dia menyelisihi tuntutan syahadatnya, meninggalkan sebagian syariat Islam dengan menentang dan mengingkarinya, atau menghalalkan sesuatu yang sudah sangat jelas keharamanya, maka kalimat ini tidak bisa menjaminnya.
Makna Syahadat Tauhid
adalah kamu mengetahui, meyakini “أشھد أن لا إلھ إلا الله” Makna
mempercayai, dan membenarkan dengan cara hatimu mengatakan, “Saya
ridho bahwa sebenarnya tidak ada tuhan yang benar disembah kecuali Allah الواحد Yang Maha Esa sifat nya dan الاحد Yang Maha Esa Dzat Nya (yang tidak terdiri dari bagian-bagian. Oleh karena itu, Dia
adalah Yang Maha Esa dalam Dzat, Sifat-sifat, dan tidak bertempat di suatu
tempat tertentu), الاول Yang Maha Awal (yang tidak ada permulaan bagi wujud-Nya), القديم Yang Maha Qodiim (yang wujud-Nya bukan berasal dari yang lainNya), الحي القيوم Yang Maha Hayyu dan Qoyyum (yang berdiri sendiri dan tidak
membutuhkan yang lain. Oleh karena itu, keberadaan Allah tidak berhubungan dengan yang lain. Sebaliknya keberadaan selain-Nya
berhubungan dengan-Nya), الباقى Yang Maha al-Baqi (yang tidak akan sirna
setelah seluruh makhluk sirna), الداءم Yang Maha ad-Daaim (yang tidak akan
pernah berubah sepanjang masa), الخالق Yang Maha al-Khooliq (yang
menciptakan seluruh makhluk yang mana wujud mereka berasal dari
keadaan tidak ada), الرازق Yang Maha ar-Rozzaq (yang membagi pasti semua
yang hidup sampai mati dengan rizki yang dapat membuat batin dan dzahir
mereka mampu bertahan dan kuat, yaitu seperti keyakinan, pengetahuan,
tempat tinggal, pakaian, makanan pokok, dan lain-lain), العالم Yang Maha ‘Aalim
(yaitu Dzat yang Ilmu-Nya bukan dihasilkan dari proses usaha dan objek-objek yang diketahui oleh Ilmu-Nya tidak ada batasnya), القدير Yang Maha AlQodiir (yaitu Dzat yang tidak dilemahkan oleh sesuatu yang besar dan remeh), الفعال لما يريد Yang Maha berbuat segala sesuatu yang Dia kehendaki, yaitu Dia
tidak lemah atas segala sesuatu yang Dia kehendaki dan Dia tidak tercegah
dari segala sesuatu yang Dia cari, oleh karena ini, 
ما شاءَ اللهُ كانَ وما لم يَشَأْ لم يَكُنْ 
segala sesuatu yang Dia kehendaki wujudnya maka terwujud dan segala sesuatu yang Dia tidak
kehendaki wujudnya maka tidak akan terwujud.
**** La haula Wa laa Quwwata Illa Billahil Aliyil Adhim berarti bahwa tidak ada kemampuan, gerakan, dan kekuatan kecuali sebab Allah, Yang Maha Luhur Derajat-Nya, Yang Maha Agung. 
Imam Nawawi Al Bantani menjelaskan
ولا حَوْلَ ولا قُوَّةَ إلّا بِاللهِ العَلِيِّ العَظِيمِ
berarti tidak ada kemampuan menghindari maksiat
 kecuali dengan pertolongan Allah dan tidak ada kekuatan melakukan ketaatan kecuali dengan
pertolongan-Nya. Makna Lafadz ‘ العلي ’
berarti Yang Maha Luhur Derajat-Nya, dan Yang Maha Suci dari segala sesuatu selain-Nya.
Lafadz ‘ العظيم ’ berarti Yang Memiliki Keagungan dan Kesombongan.
Lafadz hauqolah adalah tanaman-tanaman surga, seperti yang disebutkan dalam
hadis Mi’roj, “Ketika Rasulullah, Shollallahu ‘Alaihi Wa Sallama, melihat Nabi Ibrahim, ‘Alaihi as-Salaam, yang tengah duduk di samping pintu surga di atas kursi yang terbuat dari intan zabarjud hijau, Nabi Ibrahim berkata kepada Rasulullah, Shollallahu ‘Alaihi Wa Sallama, ‘Perintahkanlah umatmu untuk memperbanyak tanaman-tanaman surga karena tanahnya sangatlah subur dan luas!’ Rasulullah bertanya, ‘Apa tanaman-tanaman surga itu?’ Nabi Ibrahim menjawab 
. ‘لا حول ولا قوة إلا باالله العلي العظيم ’ 
Termasuk keistimewaan kalimah hauqolah adalah seperti yang tertulis dalam kitab
Fawaid asy-Syarji bahwa Ibnu Abi Dunya berkata dengan sanadnya yang sampai pada
Rasulullah, Shollallahu ‘Alaihi Wa Sallama, bahwa beliau bersabda, “Barang siapa membaca
‘لا حول ولا قوة إلا باالله العلي العظيم
Setiap hari 100 kali maka ia tidak akan tertimpa kefakiran
selamanya.”
Diriwayatkan dalam hadis juga, “Ketika seseorang memiliki hajat yang penting, dan ia membaca 
‘لا حول ولا قوة إلا باالله العلي العظيم
sebanyak minimal 300 kali maka Allah memudahkan hajat itu.” Demikian ini disebutkan oleh Syaikhuna Yusuf dalam Hasyiahnya ‘Ala al-Mi’roj.


Saturday, 30 November 2024

Al Fatihah Bagian 3

Al Fatihah Bag 3
إِيَّاكَ نَعْبُدُ وَإِيَّاكَ نَسْتَعِينُ
Hanya Engkaulah yang kami sembah, dan hanya kepada Engkaulah kami meminta pertolongan.
Iyyaka merupakan kata yang menunjuk kepada orang kedua, dalam hal ini yang dimaksud adalah Allah subhanahu wa ta'alla. Sebelum ayat ini, redaksi yang digunakan ayat-yat al-Fatihah semuanya berbentuk kata ganti orang ketiga.
Dengan nama Allah yang Maha Rahman lagi Maha Rahim Segala puji bagi Allah Pemelihara seluruh alam, Yang Maha Rahman lagi Maha Rahim, Pemilik hari Pembalasan.
Tiba-tiba di sini, redaksi diubah kebentuk kata ganti orang kedua: Hanyakepada-Mu kami mengabdi dan hanya kepada-Mu kami memohon pertolongan. ”Ini berarti ayat di atas dengan mengajarkan untuk mengucapkan iyyaka menuntut kita agar menghadirkan Allah dalam benak kita.
Allah Ta’ala menciptakan makhluk untuk beribadah kepada-Nya semata tanpa ada sekutu bagi-Nya. Barangsiapa yang taat kepada-Nya akan Allah balas dengan balasan yang sempurna. Sedangkan barangsiapa yang durhaka kepada-Nya niscaya Allah akan menyiksanya dengan siksaan yang sangat keras.
Ibadah yang dilakukan manusia kepada Allah Ta’ala hakikatnya adalah karena kesadaran (asy-syu’ur) terhadap dua hal:
1. asy-syu’ur bikatsrati ni’amillah ( الشعور بكثرة نعم الله ) kesadaran akan banyaknya nikmat-nikmat Allah.
Seorang manusia akan selalu termotivasi untuk melakukan ibadah kepada Allah Ta’ala jika ia menyadari bahwa seluruh kenikmatan yang dirasakannya selama ini adalah berasal dari Allah Ta’ala.
2. asy-syu’ur bi ‘adzhomatillah ( الشعور بعظمة الله )
(kesadaran akan keagungan Allah).
Seorang manusia pun akan termotivasi untuk melakukan ibadah kepada Allah Ta’ala jika ia menyadari betapa besar keagungan-Nya. Dialah Allah yang menjadikan bumi sebagai tempat kediaman, Dialah yang menghidupkan manusia di atasnya dan melimpahkan rezeki kepadanya,

Dalam kitab A'lamus Sunnah Al-Mansyuroh li I'tiqodit Thoifah Annajiyah Almanshuroh disebutkan
العبادة هي اسم جامع لكل ما يحبه الله ويرضاه من الأقوال والأعمال الظاهرة والباطنة والبراءة مما ينافي ذلك ويضاده
Ibadah adalah sebutan pada setiap perkara yang di cintai dan di ridloi Allah,entah dari ucapan,pekerjaan dhohir maupun batin dan terbebas dari perkara yang bertentangan pada perkara yang dicintai Allah.
Ibadah ini harus di ikhlaskan hanya kepada Allah subhanahu wa ta'alla.
Muhammad Al Ghazali dalam kitabnya Raka’iz al-lman mengemukakan tiga unsur pokok yang merupakan hakikat ibadah atau penghambaan:
1) Si Pengabdi tidak menganggap apa yang berada dalam genggaman tangannya sebagai miliknya, karena yang
dinamai hamba tidak memiliki sesuatu. Apa yang “dimilikinya” adalah milik tuannya.
2) Segala usahanya hanya berkisar pada mengindahkan apa yang diperintahkan oleh siapa yang kepadanya ia mengabdi.
3) Tidak memastikan sesuatu untuk dia laksanakan kecuali mengaitkannya dengan izin dan restu siapa yang kepadanya dia mengabdi.
Ketika seorang menyatakan iyyaka na‘budu maka ketika itu tidak sesuatun apapun, baik dalam diri seseorang maupun yang berkaitan dengannya,
kecuali telah dijadikan milik Allah. Memang, segala aktivitas manusia harus berakhir menjadi ibadah kepada-Nya sedang puncak ibadah adalah Ihsan

Begitu juga kesempurnaan meminta tolong dan mengantungkan pertolongan hanyalah kepada Allah. Seseorang juga menyerahkan seluruh perkara hanya kepada-Nya, serta meyakini bahwa hanya Allah yang bisa memberi kecukupan kepadanya. Hanya Allah saja yang menjadi penyebab utama sesuatu bisa terjadi dan sesuatu tidak terjadi. Maka kesempurnaan ketergantungan hati hanyalah kepada Allah. Rasulullah Shalallahu alaihi wa sallam bersabda,
يَا غُلاَمُ! إِنِّي أُعَلِّمُكَ كَلِمَاتٍ: احْفَظِ اللهَ يَحْفَظْكَ، اِحْفَظِ اللهَ تَجِدْهُ تُجَاهَكَ، إِذَا سَأَلْتَ فَاسْأَلِ اللهَ، وَإِذَا اسْتَعَنْتَ فَاسْتَعِنْ باِللهِ، وَاعْلَمْ أَنَّ الأُمَّةَ لَوِ اجْتَمَعَتْ عَلَى أَنْ يَنْفَعُوْكَ بِشَيْءٍ لَمْ يَنْفَعُوْكَ إِلاَّ بِشَيْءٍ قَدْ كَتَبَهُ اللهُ لَكَ، وَإِنِ اجْتَمَعُوا عَلَى أَنْ يَضُرُّوْكَ بِشَيْءٍ لَمْ يَضُرُّوْكَ إِلاَّ بِشَيْءٍ قَدْ كَتَبَهُ اللهُ عَلَيْكَ، رُفِعَتِ الأَقْلاَمُ وَجَفَّتِ الصُّحُفُ
‘Wahai anak muda! Sesungguhnya aku akan mengajarkan beberapa kalimat kepadamu. Jagalah Allah, niscaya Allah akan menjagamu. Jagalah Allah, niscaya engkau akan mendapati-Nya di hadapanmu. Jika engkau mau meminta, mintalah kepada Allah. Jika engkau mau meminta pertolongan, mintalah kepada Allah. Ketahuilah apabila semua umat berkumpul untuk mendatangkan manfaat kepadamu dengan sesuatu, maka mereka tidak bisa memberikan manfaat kepadamu kecuali dengan sesuatu yang telah Allah tetapkan untukmu. Dan seandainya mereka pun berkumpul untuk menimpakan bahaya kepadamu dengan sesuatu, maka mereka tidak dapat membahayakanmu kecuali dengan sesuatu yang telah Allah tetapkan bagimu. Pena-pena (pencatat takdir) telah diangkat dan lembaran-lembaran (catatan takdir) telah kering.’” (HR. Tirmidzi)
Manusia terbagi menjadi dua dalam maqam mendapat pertolongan Allah. Maqam yang pertama adalah maqam tajrid dimana Allah memberikan pertolongan tanpa usaha atau sebab. Maqam yang kedua adalah maqam asbab dimana seseorang harus melakukan sebab untuk mendapat pertolongan Allah. Kedua maqam ini tidak permanen, namun Allah mengilirnya atau menetapkan maqam ini sesuai dengan kehendak Allah.

Ketika seseorang meminta bantuan, hal itu berarti bahwa seseorang tidak mampu, tidak dapat atau terhalang, atau sulit meraih apa yang diinginkan , kecuali bila dibantu. Bantuan adalah sesuatu yang dapat mempermudah melakukan sesuatu yang sulit diraih oleh yang memintanya.

Permohonan bantuan kepada Allah adalah permohonan agar Dia mempermudah apa yang tidak mampu diraih oleh yang memohon dengan usahanya sendiri.
Permohonan bantuan itu, bukan berarti berlepas tangan sama sekali. Seseorang masih dituntut untuk berperan, sedikit atau banyak sesuai dengan kondisi yang dihadapi.
Selanjutnya pernyataan “Hanya kepada-Mu Kami memohon pertolongan”
mengandung pula makna bahwa kepada selain Allah sang pengucap tidak memohon pertolongan.
Hal ini bukan berarti menafikan perintah-perintah Allah untuk saling tolong menolong. Dalam kehidupan ini, ada yang dinamai
hukum-hukum alam atau “sunnatullah”, yakni ketetapan-ketetapan Tuhan yang lazim berlaku dalam kehidupan nyata, seperti hukum-hukum sebab dan akibat. Manusia mengetahui sebagian dari hukum-hukum tersebut. Misalkan seorang yang sakit. Ia lazimnya dapat sembuh apabila berobat dan mengikuti saran-saran dokter. Di sini dianjurkan untuk meminta pertolongan dokter. Tetapi kita tidak boleh menganggap bahwa dokter atau obat yang diminum yang menyembuhkan penyakit yang diderita itu. Tidak! Yang menyembuhkan adalah Allah Subhanahu wata'alla. Kenyataan menunjukkan bahwa seringkali dokter telah
“menyerah” dalam mengobati seorang pasien bahkan telah memperkirakan batas waktu kemampuannya bertahan hidup. Namun dugaan sang dokter tersebut meleset, bahkan si pasien tak lama kemudian segar bugar. Apa arti
itu semua? Apa yang terjadi di sana? Yang terjadi bukan sesuatu yang lazim.
Ia tidak berkaitan dengan hukum sebab dan akibat yang selama ini kita ketahui.
Jika demikian, dalam kehidupan kita di samping ada yang dinamai
sunnatullah yakni ketetapan-ketetapan Ilahi yang lazim berlaku dalam
kehidupan nyata seperti hukum sebab dan akibat, dan ada juga yang dinamai
‘inayatullah yakni pertolongan dan bimbingan Allah di luar kebiasaan-kebiasaan yang berlaku. Ini dalam bahasa al-Qur’an dinamai dengan madad.
Namun secara tegas ayat ini menyatakan bahwa hati kita harus mengantungkan pertolongan dalam segala Aktifitas hanya kepada Allah.

Sebagian ulama menyebutkan bahwa nun dalam kalimat tersebut memang jamak.
Hal ini menginformasikan tentang kaum Mukmin yang tengah menyembah Allah
dan meminta pertolongan kepada-Nya, sedangkan orang yang melakukan shalat adalah bagian dari mereka. Hal ini menunjukan kerendahan diri seorang mukmin sehingga dia malu menghadap sendiri kepada Allah, namun kemudian merasa menjadi bagian dari hamba-hamba Allah yang menyembah dan meminta kepada Allah.
Temanggung, 28 Jumadal Ulla 1446
Ta' Rouf Yusuf

Saturday, 26 October 2024

Al Fatihah Bagian 2

Al Fatihah Bagian 2
ٱلْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ ٱلْعَٰلَمِينَ
Segala puji bagi Allah, Tuhan semesta alam.
ٱلْحَمْدُ
Dalam Tafsir At Thabari di kutip satu riwayat dari Sahabat Ibnu Abbas, Ibnu Abbas, ia berkata, "Jibril berkata
kepada Muhammad Shalallahu alaihi wa salla, `Wahai Muhammad, ucapkanlah, Alhamdulillah'." Ibnu Abbas berkata Alhamdulillah artinya bersyukur (الشكر )kepada Allah dan mengakui segala kenikmatan-Nya, petunjuk-Nya dan lain sebagainya.
Sebagaimana Allah berfirman :
وَلَئِن سَأَلْتَهُم مَّن نَّزَّلَ مِنَ ٱلسَّمَآءِ مَآءً فَأَحْيَا بِهِ ٱلْأَرْضَ مِنۢ بَعْدِ مَوْتِهَا لَيَقُولُنَّ ٱللَّهُ ۚ قُلِ ٱلْحَمْدُ لِلَّهِ ۚ بَلْ أَكْثَرُهُمْ لَا يَعْقِلُونَ
Dan sesungguhnya jika kamu menanyakan kepada mereka: "Siapakah yang menurunkan air dari langit lalu menghidupkan dengan air itu bumi sesudah matinya?" Tentu mereka akan menjawab: "Allah", Katakanlah: "Segala puji bagi Allah", tetapi kebanyakan mereka tidak memahami(nya).(Al Ankabut:63)
ٱلْحَمْدُ لِلَّهِ ٱلَّذِىٓ أَنزَلَ عَلَىٰ عَبْدِهِ ٱلْكِتَٰبَ وَلَمْ يَجْعَل لَّهُۥ عِوَجَا ۜ
Segala puji bagi Allah yang telah menurunkan kepada hamba-Nya Al Kitab (Al-Quran) dan Dia tidak mengadakan kebengkokan di dalamnya ( Al Kahfi : 1)
وَنَزَعْنَا مَا فِى صُدُورِهِم مِّنْ غِلٍّ تَجْرِى مِن تَحْتِهِمُ ٱلْأَنْهَٰرُ ۖ وَقَالُوا۟ ٱلْحَمْدُ لِلَّهِ ٱلَّذِى هَدَىٰنَا لِهَٰذَا وَمَا كُنَّا لِنَهْتَدِىَ لَوْلَآ أَنْ هَدَىٰنَا ٱللَّهُ ۖ لَقَدْ جَآءَتْ رُسُلُ رَبِّنَا بِٱلْحَقِّ ۖ وَنُودُوٓا۟ أَن تِلْكُمُ ٱلْجَنَّةُ أُورِثْتُمُوهَا بِمَا كُنتُمْ تَعْمَلُونَ
Dan Kami cabut segala macam dendam yang berada di dalam dada mereka; mengalir di bawah mereka sungai-sungai dan mereka berkata: "Segala puji bagi Allah yang telah menunjuki kami kepada (surga) ini. Dan kami sekali-kali tidak akan mendapat petunjuk kalau Allah tidak memberi kami petunjuk. Sesungguhnya telah datang rasul-rasul Tuhan kami, membawa kebenaran". Dan diserukan kepada mereka: "ltulah surga yang diwariskan kepadamu, disebabkan apa yang dahulu kamu kerjakan".( Al A'raf :43 )
Ayat ayat di atas menunjukan bahwa kata Alhamdu adalah syukur atas nikmat- nikmat yang telah Allah berikan kepada manusia. Namun Imam Ibnu Katsir dalam tafsirnya menjelaskan bahwa Al Hamdu lebih luas daripada Asy Syukru. Kata Alhamdu lebih umum daripada kata Asysyukru, dilihat dari objek penggunaan. Kata Alhamdu digunakan ketika mendapat nikmat dan musibah, sementara AsySyukru hanya digunakan
ketika mendapat nikmat. Jadi Al hamdu (الحمد) merupakan pujian dengan lisan kepada sesuatu yang indah, yang dilakukan kerena kesempurnaan yang ada pada sesuatu yang dipuji meskipun bukan merupakan balasan dari sebuah kenikmatan.
Fungsi huruf alif-lam dalam kata Alhamdu adalah li al-istighraq (meliputi seluruh pujian). ltu
mencakup segala jenis pujian yang semuanya
 hanya milik Allah. Maka dalam terjemah Al Quran Bahasa Indonesia, kata Alhamdu diartiakan sebagai segala puji bagi Allah.
"Ar-Rabbu" adalah raja dan pengatur segala sesuatu. Dalam bahasa, istilah ini digunakan untuk tuan dan pengurus untuk perbaikan sesuatu. Semua itu benar bila merujuk kepada Allah Subhanahu wa ta'alla. Kata "Ar-Rabbu" hanya digunakan untuk Allah. Namun, kita dapat menggunakan kata tersebut dengan memberikan penambahan, misalnya "Rabbu ad-daar" (tuan rumah) atau "Rabbu kadza" (tuan dari sesuatu). Sedangkan, kata "Ar-Rabb” saja, hanya digunakan untuk menyebut Allah Subhanahubwa ta'alla. Bahkan disebutkan bahwa "Ar-Rabb” adalah namaNya yang paling agung.
Kata “Al-‘alamin” merupakan bentuk jamak dari "’alam" yang berarti makhluk selain Allah. Kata “’Alam” merupakan bentuk jamak yang tidak memiliki bentuk tunggal dari lafadznya. “Al-‘awalim” adalah seluruh jenis makhluk di langit, daratan, dan lautan. Setiap masa dan generasi disebut sebagai alam juga.
Maka ayat ini menyampaikan bahwa seluruh pujian hanyalah milik Allah,Yang memiliki sifat sempurna yang pantas di puji, Yang Memiliki dan mengatur seluruh makhluk ciptaanya.

ٱلرَّحْمَٰنِ ٱلرَّحِيمِ
Maha Pemurah lagi Maha Penyayang.
Imam Al-Qurthubi berkata:”Allah menyifati diri-Nya dengan sifat Rahman dan Rahim setelah Rabbul ‘Alamin untuk menggabungkan kabar gembira (targhiib) setelah peringatan (tarhiib). Imam al-Qurthubi mengatakan: “Ar-Rabb merupakan peringatan, sedangkan ar-Rahmaan dan ar-Rahiim merupakan anjuran.” Diriwayatkan oleh Abu Hurairah radiyallahu anhu, ia berkata:”Rasulullah shallahu alaihi wa sallam bersabda:
لَوْ يَعْلَمُ الْمُؤْمِنُ مَا عِنْدَ اللهِ مِنَ الْعُقُوبَةِ، مَا طَمِعَ بِجَنَّتِهِ أَحَدٌ، وَلَوْ يَعْلَمُ الْكَافِرُ مَا عِنْدَ اللهِ مِنَ الرَّحْمَةِ، مَا قَنَطَ مِنْ جَنَّتِهِ أَحَدٌ
“Seandainya seorang mukmin mengetahui siksaan yanga ada di sisi Allah, niscaya tidak ada seorang pun yang bersemangat untuk meraih Surga-Nya. Dan seandainya seorang kafir mengetahui rahmat yang ada di sisi Allah, niscaya tidak ada seorang pun yang berputus asa dari surga-Nya.” ( HR Muslim)
مَٰلِكِ يَوْمِ ٱلدِّينِ
Yang menguasai di Hari Pembalasan.
Maalik (yang menguasai) dengan memanjangkan mim, berarti: pemilik. dapat pula dibaca dengan Malik (dengan memendekkan mim), artinya: Raja. Dihubungkannya kepemilikan hari pembalasan kepada-Nya meskipun milik-Nya dunia dan akhirat, karena pada hari itu kelihatan dengan jelas kekuasaan dan kepemilikan-Nya. Pada hari itu antara raja-raja di dunia dengan rakyat sama tidak ada perbedaan, mereka tunduk kepada keagungan-Nya, menunggu pembalasan-Nya, mengharapkan pahala-Nya dan takut terhadap siksa-Nya.
Yaumiddin (hari Pembalasan): hari yang di waktu itu masing-masing manusia menerima pembalasan amalannya baik atau buruk. Yaumiddin disebut juga yaumul qiyaamah, yaumul hisaab, yaumul jazaa' dan sebagainya. Dibacanya ayat ini oleh seorang muslim dalam setiap shalat untuk mengingatkannya kepada hari akhir; hari di mana amalan diberikan balasan. Demikian juga mendorong seorang muslim untuk beramal shalih dan menghindari kemaksiatan.
Pemilik hari perhitungan dan pemberian balasan atas amalamal. Segala urusan berada di tangan-Nya pada hari Kiamat. Siapa pun yang tahu bahwa Allah memiliki hari pembalasan, berarti dia telah mengenal-Nya dengan nama-nama dan sifat-sifat-Nya yang tertinggi

Wallahu a'lam

Ta' Rouf Yusuf

Thursday, 17 October 2024

Kewajiban Pertama Seorang Mukalaf (Kajian Sulam Taufiq Bagian 2)

Bab Ushuluddin
بابُ أُصُولِ الدِّينِ
فَصْلٌ: في الواجِبِ على كُلِّ مُكَلَّفٍ
يَجِبُ على كافَّةِ المُكَلَّفِينَ الدُّخُولُ في دِينِ الإسْلام، والثُّبُوتُ فيه على الدَّوام، والْتِزامُ ما لَزِمَ عليه مِنَ الأحْكام.

Pasal Yang Wajib bagi Setiap Muslim Mukallaf
Setiap orang yang mukallaf (baligh dan berakal)* wajib masuk kedalam agama islam** dan menetap selama-lamanya serta beriltizam menjalankan semua hukum-hukumnya.***
----
* Mukalaf adalah orang yang baligh dan berakal.
Nabi sallallahu alaihi wa sallam bersabda:
  رُفِعَ الْقَلَمُ عَنْ ثَلَاثَةٍ : عن النَّائِمِ حَتَّى يَسْتَيْقِظَ ، وَعَنْ الصَّبِيِّ حَتَّى يَحْتَلِمَ ، وَعَنْ الْمَجْنُونِ حَتَّى يَعْقِلَ
“Diangkat pena (beban dosa) dari tiga macam, orang tidur sampai bangun. Anak kecil sampai bermimpi (balig) dan orang gila sampai berakal (sembuh).” (HR Abu Dawud dan Tirmidzi)
Telah ada dalam ‘Mausu’ah Fiqhiyah, (4/36), “Jumhur ulama fikih berpendapat bahwa sisi pembebanan kewajiban pada seseorang adalah balig bukan tamyiz (bisa membedakan baik dan buruk). Anak kecil yang dapat membedakan baik dan buruk tidak diwajibkan atas suatu kewajiban. Dan tidak dihukum karena meninggalkan sesuatu dari kewajiban itu. Atau melakukan suatu yang diharamkan nanti di akhirat. Berdasarkan sabda Nabi sallallahu alaihi wa sallam:
“Diangkat pena (beban dosa) dari tiga macam, orang tidur sampai bangun. Anak kecil sampai bermimpi (balig) dan orang gila sampai sembuh.”
Telah ada juga, “Para ulama fikih bersepakat (ijma’) bahwa akal adalah tempat gantungan suatu kewajiban kepada seseorang. Maka tidak diwajibkan ibadah baik shalat, puasa, haji, jihad atau ibadah lainnya bagi orang yang tidak berakal seperti gila meskipun dia muslim balig.
Baligh
Yang perlu diketahui seorang anak bisa dihukumi baligh, apabila sudah memenuhi salah satu dari empat tanda-tanda baligh yang akan kami uraikan di bawah ini:
1. Genap berumur 15 tahun qomariyah/hijriyah bagi laki-laki atau perempuan
Hal ini berdasarkan hadits Ibnu Umar, tatkala beliau diajukan kepada Nabi Shalallahu alaihi wa sallam untuk ikut berperang dalam perang Uhud saat masih berusia 14 tahun. Namun Nabi tidak merestui, karena menganggapnya belum baligh. Kemudian pada perang Khandaq, Ibnu Umar diajukan kembali kepada Nabi. Untuk ikut berperang, saat berusia 15 tahun. Karena Nabi menganggapnya sudah baligh, maka beliau merestuinya.
Dari hadits di atas, Ulama merumuskan bahwa bila seorang anak laki-laki atau perempuan berumur 15 tahun, maka dihukumi baligh. Sedangkan cara penghitungannya, dimulai dari terpisahnya anak dari kandungan sang ibu sampai genap umur 15 tahun hijriyah dengan hitungan pasti. Oleh karena itu, jika kurang satu hari saja, seorang anak belum bisa dihukumi baligh.
Dalam penentuan umur baligh ini, yang dijadikan pijakan adalah penanggalan hijriyah, bukan penanggalan masehi. Dengan demikian, sudah seharusnya bagi orang tua untuk membiasakan diri menggunakan penanggalan hijriyah dalam menulis hari kelahiran bayi. Bukan dengan penanggalan masehi.
2. Keluar sperma pada saat minimal usia 9 tahun hijriyah bagi laki-laki atau perempuan.
Tanda-tanda baligh selanjutnya bisa diketahui dengan keluarnya sperma. Hal ini berdasarkan firman Allah Swt. dalam QS. An-Nur ayat 59:
وَإِذَا بَلَغَ الأَطْفَالُ مِنْكُمُ الحُلُمَ فَلْيَسْتَأْذِنُوا
“Dan apabila anak-anakmu sekalian telah mancapai baligh (keluar sperma), maka hendaklah mereka minta  izin”.
Dan hadits Nabi Saw.:
رُفِعَ الْقَلَمُ عَنْ ثَلاثَةِ : عَنِ الصَّبِيَّ حَتَّى يَخْتَلِم
“Tuntutan untuk mengamalkan syari’at tidak diberlakukan bagi tiga orang: (salah satunya) bagi anak kecil sampai dia keluar sperma.” (HR. Abu Daud dan Al-Baihaqi)
Dari ayat dan hadits tersebut, Ulama merumuskan bahwa keluar sperma adalah salah satu tanda baligh bagi laki-laki atau perempuan. Keluar sperma bisa menjadi salah satu tanda baligh apabila anak laki-laki atau perempuan sudah berumur 9 tahun dan sperma sudah yakin terasa keluar, walaupun tidak terlibat dari luar kemaluan. Namun ia tidak dihukumi junub, kecuali apabila sperma sudah terlihat dari luar. Jika belum genap umur 9 tahun, maka seorang anak tidak bisa dihukumi baligh.
3. keluar darah haid bagi wanita
Ketika seorang wanita pertama kali mengalami haid, maka mulai saat itu ia dihukumi baligh.
4. Hamil / Melahirkan
Pada hakikatnya hal ini bukanlah menjadi salah satu tanda baligh bagi wanita. Akan tetapi yang menjadi tanda baligh adalah keluarnya sperma yang ditandai dengan adanya melahirkan, sebab kehamilan tidak bisa diyakini keberadaannya kecuali setelah melahirkan. Ketika wanita sudah melahirkan, maka wanita tesebut dihukumi baligh semenjak 6 bulan lebih sedikit sebelum melahirkan. Mengapa 6 bulan? karena usia ini adalah usia kehamilan prematur yang di simpulkan olaeh ulama. Para ulama mengambil kesimpulan bahwa bayi prematur batasannya adalah 6 bulan. Berdasarkan ayat Al-Quran.
وَالْوَالِدَاتُ يُرْضِعْنَ أَوْلاَدَهُنَّ حَوْلَيْنِ كَامِلَيْنِ لِمَنْ أَرَادَ أَن يُتِمَّ الرَّضَاعَةَ
“Para ibu hendaklah menyusukan anak-anaknya selama dua tahun penuh, yaitu bagi yang ingin menyempurnakan penyusuan.” (QS. Al Baqarah: 233)
Kemudian ayat lainnya, tentang waktu total hamil dan menyusui,
وَحَمْلُهُ وَفِصَالُهُ ثَلَاثُونَ شَهْراً
“Mengandungnya sampai menyapihnya adalah tiga puluh bulan”. (QS. Al-Ahqaf: 15)
Maka batas minimal bayi bisa lahir adalah:
30 bulan – 24 bulan [2 tahun]= 6 bulan
Ibnu Katsir rahimahullah berkata ketika menafsirkan surat Al-Ahqaf ayat 15,
وقد استدل علي، رضي الله عنه، بهذه الآية مع التي في لقمان: {وفصاله في عامين} [لقمان: 14] ، وقوله: {والوالدات يرضعن أولادهن حولين كاملين لمن أراد أن يتم الرضاعة} [البقرة: 233] ، على أن أقل مدة الحمل ستة أشهر، وهو استنباط قوي صحيح. ووافقه عليه عثمان وجماعة من الصحابة، رضي الله عنهم.
“ Ali radhiallahu ‘anhu berdalil bahwa ayat ini [Al-ahqaf: 15] bersama ayat dalam surat surat Luqman {“dan penyapihannya selama dua tahun”} dan surat firman-Nya {“Para ibu hendaklah menyusukan anak-anaknya selama dua tahun penuh, yaitu bagi yang ingin menyempurnakan penyusuan.”} [AL-Baqarah: 223] bahwa batasan minimal lama waktu kehamilan adalah 6 bulan. Ini adalah kesimpulan yang kokoh dan shahih. Disepakati oleh Ustman dan sejumlah sahabat radhiallhu ‘anhu.”
**  Secara bahasa, Al-Islam diambil dari akar kata salima yang terbentuk dari huruf siin, laam, dan miim. Dari akar kata ini kita dapati kata-kata:
1. Islaamul wajhi yang berarti menundukkan wajah. Hal ini dilakukan ketika seseorang mengakui kebesaran pihak lain dan rendah hati di hadapannya.
2. Al-Istislaam yang berarti berserah diri. Hal ini dilakukan ketika orang yang sudah kalah atau merasa lebih aman kalau tidak menentang.
3. As-Salamah yang berarti keselamatan, kebersihan, atau kesehatan
4. As-Salaam yang berarti selamat dan sejahtera
5. As-Salm atau as-Silm yang berarti perdamaian atau kedamaian.
Ketika seseorang menundukkah wajahnya kepada Allah dan berserah diri kepada-Nya, pada saat itulah ia bersih dari kesombongan. Jika itu yang ia lakukan, ia akan merasakan kedamaian hidup dalam naungan-Nya, terjamin kehidupannya, terbebas dari cemas dan takut.
Nama agama Islam tidak berdasarkan pada pembawa atau tempat diturunkannya, atau nama-nama lainnya. Islam diambil dari sikap yang harus dilakukan penganutnya. Dengan sikap itu, mereka akan mendapat dan menebarkan kedamaian dan kesejahteraan bagi seluruh alam. Dalam al-Qur’an, as-Sunnah, literatur-literatur Islam, kita akan mendapati bahwa kata al-Islam memiliki banyak makna sesuai dengan konteks pembiaraannya.
Di antara makna-makna itu adalah:
1. Al-Khudhu’ (Ketundukan)
“Semua yang ada di langit dan di bumi, tunduk dan patuh kepada Allah baik dengan suka rela maupun terpaksa.” (Ali ‘Imraan: 83)
Demikian pula sikap orang-orang Islam kepada Allah dan Rasul-Nya,
“Kami mendengar dan kami patuh.” (an-Nuur: 510)
2. Wahyu Allah
Islam identik dengan kitab sucinya yaitu al-Qur’an dan as-Sunnah yang menjadi penjelasnya. Keduanya merupakan wahyu ilahi yang diberikan kepada para rasul dan harus dipegang teguh oleh umat Islam agar selamat dunia dan akhirat. Sebagaimana tersebut dalam surah al-Anbiyaa’: 7 atau an-Najm: 4
3. Diinul anbiyaa’ wal Mursaliin (Agama para Nabi dan Rasul)
Rasulullah shalallahu alaihi wa sallam bersabda: “Kami para nabi adalah saudara seayah karena pangkal agama kami satu.” (HR Bukhari)
Kaum muslimin mengimani kitab-kitab suci yang diturunkan kepada Semua Nabi dan semua Rasul, tidak membeda-bedakan di antara mereka. Sebagaimana tersebut dalam surah Ali ‘Imraan: 84.
4. Ahkamullah (Hukum-hukum Allah)
Disebut ahkamullah karena Islam adalah sitem hukum yang memuat hukum-hukum Allah yang terkandung di dalam al-Qur’an, sunnah, ijma’ maupun qiyas. Sebagaimaan tersebut dalam surah al-Maidah: 4850
5. Ash-Shirath al-Mustaqiim (jalan yang lurus)
Islam adalah satu-satunya sistem hidup yang lurus di antara sistem-sistem lain yang bengkok. Islam lurus karena ia adalah sistem Allah yang didasarkan pengetahuan dan kebijaksanaan-Nya yang Mahaluas. Sedangkan sistem lain didasarkan pada pengetahuan manusia yang serba terbatasa dan tidak terlepas dari nafsu/kepentingan. Sebagaimana tersebut dalam surah al-An’am: 153.
6. Salamatud dunya wal aakhirah (keselamatan dunia dan akhirat)
Kebaikan hidup orang muslim (yang diperoleh karena Islam) dapat dirasakan di dunia dan di akhirat. Sebagaimana tersebut dalam surah an-Nahl: 97.
Karena itu Islam kemudian menjadi sistem yang paling unggul. Ia adalah sistem yang dibawa para nabi berdasarkan wahyu Allah. Hukum-hukum yang ada di dalamnya adalah hukum Allah yang bebas dari keragu-raguan dan keterbatasan.
***  Hukum Syar'i terbagi menjadi lima :
1. Wajib : sesuatu yang apabila dikerjakan akan
mendapat pahala dan bila ditinggalkan akan mendapat dosa.
2. Haram: sesuatu yang apabila dikerjakan akan
mendapat dosa dan bila ditinggalkan akan mendapat pahala.
3. Makruh : sesuatu yang ditinggalkan mendapat pahala sedang bila dikerjakan tidak mendapat dosa.
4. Sunnah : sesuatu yang bila dikerjakan mendapat pahala dan bila ditinggalkan tidak mendapat dosa.
5. Mubah : sesuatu yang boleh dikerjakan dan boleh juga ditinggalkan.





Monday, 7 October 2024

Muqodimah Sulam Taufiq (Kajian Sulam Taufiq Bagian 1)

Muqodimah Sulam Taufiq
مُقَدِّمَةُ المُؤَلِّف
بِسْمِ ٱللَّٰهِ ٱلرَّحْمَٰنِ ٱلرَّحِيمِ
الحَمْدُ للهِ رَبِّ العالَمِينَ، وأشْهَدُ أنْ لا إلٰهَ إلّا اللهُ وَحْدَهُ لا شَرِيكَ لَهْ، وأشْهَدُ أنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ ورَسُولُهُ، صَلَّى اللهُ عليه وسَلَّمَ وعلى آلِهِ وصَحْبِهِ والتّابِعِين.
أمّا بَعْدُ، فَهٰذا جُزْءٌ لَطِيفٌ يَسَّرَهُ اللهُ تَعالَى، فِيما يَجِبُ تَعَلُّمُهُ، وتَعْلِيمُهُ، والعَمَلُ بِهِ لِلخاصِّ والعامِّ، والواجِبُ ما وَعَدَ اللهُ فاعِلَهُ بِالثَّوابِ، وتَوَعَّدَ تارِكَهُ بِالعِقابِ، وسَمَّيْتُهُ سُلَّمَ التّوْفِيق إلى مَحَبَّةِ اللهِ على التَّحْقِيق، أسأَلُ اللهَ الكَرِيمَ أنْ يَجْعَلَ ذٰلك مِنْهُولَهُ وفِيهِ وإلَيْه، ومُوجِبًا لِلقُرْبِ والزُّلْفَى لَدَيْه، وأنْ يُوَفِّقَ مَنْ وَقَفَ عليه لِلْعَمَلِ بِمُقْتَضاه، ثُمَّ التَّرَقِّي بِالتَّوَدُّدِ بِالنَّوافِلِ لِيَحُوزَ حُبَّهُ ووَلاه.

Pendahuluan Penulis
Dengan menyebut nama Allah yang maha pengasih lagi maha penyayang.*
Segala puji hanyalah milik Allah yang menjadi tuhan semesta alam.** Dan aku bersaksi bahwa tiada tuhan yang berhak untuk disembah dengan sebenar-benarnya kecuali hanya Allah yang maha tunggal yang tiada sekutu baginya.
Dan aku bersaksi bahwa nabi Muhammad adalah hamba dan utusan Allah. *** Semoga sholawat dan salam Allah senantiasa tercurahkan atas beliau, seluruh keluarga, sahabat, dan para pengikut mereka.**** Selanjutnya, ini adalah sebuah kitab kecil (semoga Allah menjadikannya mudah untuk difaham dan diamalkan) yang menjelaskan tentang hal-hal yang wajib untuk dipelajari dan diajarkan serta diamalkan oleh orang yang berilmu maupun orang awam.
Wajib adalah sesuatu yang telah dijanjikan oleh Allah bagi orang yang mengerjakannya dengan mendapatkan pahala dan telah diancam oleh Allah bagi orang yang meninggalkannya dengan mendapatkan siksa. *****
Dan aku namai kitab ini dengan nama سُلَّمَ التّوْفِيق إلى مَحَبَّةِ اللهِ على التَّحْقِيق “Tangga pertolongan untuk menggapai cinta Allah dengan sebenar-benarnya, "Aku memohon kepada Allah yang maha dermawan agar menjadikan kitab ini semata-mata anugrah dariNya, murni karenaNya, cinta padaNya dan menyampaikan kepada Nua. Dan sebagai pendekat di sisiNya
Dan semoga Allah memberikan pertolongan pada orang yang mempelajari kitab ini untuk bisa mengamalkan isinya (mengerjakan yang wajib dan meninggalkan yang haram).
Kemudian terus meningkat dengan senang mengamalkan kesunahan-kesunahan supaya ia bisa mempeoleh cinta dan pertolongan Allah.******
-----
*Penulis memulai dengan menyebut nama Allah, mengikhlaskan mencari ridho Allah, meminta tolong dan meminta berkah dari Allah sebelum menulis , sambil memohon pertolongan kepada-Nya dalam segala urusanya, sebab
 Dialah Allah yang disembah dengan benar
, Yang luas rahmat-Nya, Yang rahmat-Nya meliputi segala sesuatu; Dialah
yang memberi segala kenikmatan, baik
yang besar maupun yang kecil; Dialah yang senantiasa memberikan karunia, rahmat,
dan kemurahan.
**Al-hamdu ( الحَمْدُ للهِ) artinya ungkapan pujian
atas perbuatan yang dilakukan secara sukarela. Ia lebih umum dari kata asy-syukr (syukur), sebab syukur dilakukan sebagai imbalan
atas karunia. Kata Allah ( الله ) adalah nama Dzat Yang
Mahatinggi lagi Mahasuci. Arti nama ini adalah
Dzat yang disembah dengan benar. Menurut
sebuah pendapat ia adalah nama Allah yang paling agung, selain Dia tak ada yang memakai nama ini. Rabb (رَبِّ) pemilik, majikan, yang disembah, yang memperbaiki, yang mengatur, yang menambal, yang mengurus. Dalam kata ini terkandung makna ketuhanan, pembinaan, dan kepedulian kepada para makhluk ( العالَمِينَ) adalah bentuk jamak dar عالم yang artinya: segala sesuatu yang ada selain Allah Ta ala. Ia bermacam-macam, seperti: alam manusia, hewan, tumbuhan, debu, Jin. Kata (العالم) adalah ism jins yang tidak punya bentuk tunggal dari kata ini sendiri
*** Syahadatain adalah dua kalimat yang merupakan rukun Islam yang wajib dilakukan oleh setiap muslim. Syahadatain berisi pengakuan tentang keesaan Allah dan keutusan Muhammad sebagai rasul-Nya. Syahadatain juga merupakan simbol keimanan dan kesetiaan kepada Allah dan Rasul-Nya.
Syahadatain terdiri dari dua bagian, yaitu:
Pertama, Laa ilaaha illallah, yang artinya tidak ada sesembahan yang hak selain Allah. Kalimat ini menegaskan bahwa hanya Allah yang berhak disembah dan menerima ibadah dari manusia. Kalimat ini juga menolak segala bentuk syirik, yaitu menyembah selain Allah atau mengaku sebagai tuhan. Kedua, Anna Muhammadan Rasulullah, yang artinya aku bersaksi bahwa Muhammad adalah utusan Allah. Kalimat ini mengakui bahwa Muhammad adalah hamba Allah yang diutus kepada seluruh umat manusia untuk membawa risalah Islam. Kalimat ini juga mengajarkan untuk mentaati perintah, membenarkan ucapan, menjauhi larangan, dan tidak menyembah selain dengan apa yang disyariatkan.
Syahadatain harus dibaca dengan lisan dan hati dengan penuh khusyuk, ikhlas, dan tulus. Syahadatain harus dibaca dengan benar dan lengkap tanpa ada kesalahan atau kekurangan.
Makna syahadatain harus diamalkan setiap muslim. Tidak hanya diucapkan saja, namun juga diyakini. Syahadat merupakan salah satu rukun Islam yang perlu dipenuhi oleh setiap umat muslim. Bahkan syahadat adalah rukun Islam yang pertama sehingga memiliki hukum wajib untuk dilaksanakan.
**** Syaikh Nawawi Al-Bantani dalam Kasyifatu As-Saja' Syarh Safinah An-Najah berkata bahwa yang dimaksud “shalawat dari Allah” adalah semoga Allah menambahkan kemuliaan. Sedangkan “salam” yang dimaksud adalah semoga Allah memberikan penghormatan yang tinggi dan derajat yang mulia.
***** Hadratu Syaikh KH. Hasyim Asy’ari dalam Kitab Adabul Alim wal Muta’allim menjelaskan agar memulai belajar ilmu fardhu 'ain. Menurut beliau, ada empat pelajaran yang termasuk kategori Fardhu 'Ain. 
Pertama, ilmu tentang zat Allah. Dalam disiplin ilmu ini penuntut ilmu cukup meyakini bahwa Allah adalah zat yang wujud, dahulu, kekal, suci dari sifat-sifat kurang dan memiliki sifat-sifat kesempurnaan.
Kedua, ilmu tentang sifat-sifat Allah. Materi yang wajib diketahui adalah tentang sifat-sifat Allah, bahwa Allah memiliki sifat berkuasa, berkehendak, mengetahui, hidup, mendengar, melihat dan berbicara.
Ketiga, ilmu fiqih. Penuntut ilmu wajib mengetahui dasar-dasar fiqih yang berkaitan dengan keabsahan ibadah sehari-sehari, meliputi shalat, wudhu, mandi janabat, menghilangkan najis, puasa, dan lain sebagainya. Bila memiliki harta, maka ia wajib mengetahui ilmu tentang bagaimana membelanjakan harta dengan benar, bertransaksi yang sah secara syariat. Tidak diperkenankan melakukan aktivitas apapun sampai ia mengetahui hukum Allah di dalamnya.
Dan yang keempat, ilmu tasawuf. Yaitu ilmu yang berkaitan tentang bagaimana menata hati, bujuk rayu nafsu dan yang sejenis dengannya. Ilmu ini penting untuk diketahui sebagai bekal dasar pengetahuannya agar tidak menjadi pribadi yang sombong, angkuh, pendengki dan sifat-sifat tercela lainnya. 
Dalam mempelajari ilmu fardhu ain ini beliau merekomendasikan kitab ini dan Bidayatul Hidayah.
****** Jalan Untuk mencapai Cinta Allah
 «إِنَّ اللهَ تَعَالَى قَالَ: مَنْ عَادَى لِي وَلِيّاً فَقَدْ آذَنْتُهُ بِالحَرْبِ. وَمَا تَقَرَّبَ إِلَيَّ عَبْدِيْ بِشَيْءٍ أَحَبَّ إِلَيَّ مِمَّا افْتَرَضْتُ عَلَيْهِ. وَمَا يَزَالُ عَبْدِيْ يَتَقَرَّبُ إِلَيَّ بِالنَّوَافِلِ حَتَّى أُحِبَّهُ، فَإِذَا أَحْبَبْتُهُ كُنْتُ سَمْعَهُ الَّذِي يَسْمَعُ بِهِ، وَبَصَرَهُ الَّذِي يُبْصِرُ بِهِ، وَيَدَهُ الَّتِي يَبْطِشُ بِهَا، وَرِجْلَهُ الَّتِي يَمْشِي بِهَا. وَلَئِنْ سَأَلَنِي لَأُعْطِيَنَّهُ، وَلَئِنْ اسْتَعَاذَنِي لَأُعِيْذَنَّهُ» رَوَاهُ البُخَارِيُّ.
Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu berkata, Rasulullah shallallahu ‘slaihi wa sallam bersabda, “Sesungguhnya Allah Ta’ala berfirman, ‘Barangsiapa yang menyakiti waliku, maka Aku mengumumkan perang kepadanya. Tidaklah hamba-Ku mendekat kepada-Ku dengan sesuatu yang paling Aku cintai selain apa yang Aku wajibkan baginya. Hamba-Ku senantiasa mendekat diri kepada-Ku dengan amalan sunnah sehingga Aku mencintainya. Apabila aku telah mencintainya, Aku menjadi pendengarannya yang ia gunakan untuk mendengar, penglihatannya yang ia gunakan untuk melihat, tangannya yang ia gunakan untuk berbuat, dan kakinya yang ia gunakan untuk berjalan. Jika dia meminta kepadaku, pasti aku beri. Jika dia meminta perlindungan kepada-Ku pasti aku lindungi" (HR. Bukhari)
Al-wali secara bahasa berarti al-qarib, artinya dekat. Sebagaimana penyebutan dalam hadits berikut ini,
أَلْحِقُوا الْفَرَائِضَ بِأَهْلِهَا فَمَا بَقِيَ فَهُوَ ِلأَوْلَى رَجُلٍ ذَكَرٍ.
“Berikan bagian warisan kepada ahli warisnya, selebihnya adalah milik laki-laki yang paling dekat dengan mayit.” (HR. Bukhari dan Muslim)
Makna auliya (أَوْلِيَاءَ) adalah walijah (وَلِيجةُ) yang maknanya: “orang kepercayaan, yang khusus dan dekat” (lihat Lisaanul ‘Arab). Auliya dalam bentuk jamak dari wali (ولي) yaitu orang yang lebih dicenderungi untuk diberikan pertolongan, rasa sayang dan dukungan. Bila dalam bahasa Indonesia makna aulia itu sendiri adalah wali atau orang suci. Jika lafaznya dibaca walayah (dengan fathah) maka berarti memberikan dukungan dan pembelaan, dan kedua jika lafaznya dibaca wilayah (dengan kasrah) maka berarti menyerahkan mandat atau memberi kekuasaan. Demikian menurut ar-Raghib al-Iṣfahani dalam kitab Mufradat Alfaẓ al-Qurʾan.
Jadi wali Allah adalah orang yang dekat dengan Allah. Maka jika merujuk hadits di atas maka langkah yang dilakukan adalah menjalankan kewajiban yang diwajibkan Allah, kemudian menjalankan ibadah sunah hingga Allah mencintainya. Maka jalan ini disebut oleh penulis sebagai سُلَّمَ التّوْفِيق إلى مَحَبَّةِ اللهِ على التَّحْقِيق ( Tangga pertolongan untuk menggapai cinta Allah dengan sebenar-benarnya )



Al Fatihah Bagian 4

Tadabur Al Fatihah bagian ke 4 ٱهْدِنَا ٱلصِّرَٰطَ ٱلْمُسْتَقِيمَ Tunjukilah kami jalan yang lurus, Permintaan yang diajarkan Allah yang per...