Kemarin ketika temanguung hujan deras, sayapun mampir di sallah satu toko teman, dan alhamdulillah bertemu seorang teman lama. setelah ngobrol lama kami terlubat sebuah dikusi tentang poligami. Apakah hukumnya? trus barusan nemu artikel bagus. boleh juga nanti kl ada yang mau urun rembug.... ini dia isinya....
Poligami
Agama Islam
yang disyariatkan oleh Allah Ta’ala dengan ilmu-Nya yang maha tinggi
serta hikmah dan ketentuan hukum-Nya yang maha agung, adalah agama yang
sempurna aturan syariatnya dalam menjamin kemaslahatan bagi umat Islam serta
membawa mereka meraih kebahagiaan hidup di dunia dan akhirat.
Allah Ta’ala berfirman,
{الْيَوْمَ أَكْمَلْتُ لَكُمْ دِينَكُمْ وَأَتْمَمْتُ عَلَيْكُمْ
نِعْمَتِي وَرَضِيتُ لَكُمُ الْإِسْلَامَ دِينًا}
“Pada hari ini telah
Kusempurnakan untukmu agamamu dan telah Ku-cukupkan kepadamu nikmat-Ku, serta
telah Ku-ridhai Islam itu sebagai agamamu” (QS. Al Maaidah:3).
Imam Ibnu Katsir berkata, “Ini
adalah nikmat/anugerah Allah Ta’ala yang terbesar bagi umat Islam,
karena Allah Ta’ala telah menyempurnakan agama ini bagi mereka, sehingga
mereka tidak butuh kepada agama selain Islam, juga tidak kepada nabi selain
nabi mereka (nabi Muhammad) shallallahu ‘alaihi wa sallam. Oleh sebab
itulah, Allah Ta’ala menjadikan beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam
sebagai penutup para nabi dan mengutus beliau kepada (seluruh umat) manusia dan
jin, maka tidak sesuatu yang halal kecuali yang beliau shallallahu ‘alaihi
wa sallam halalkan (dengan wahyu dari Allah Ta’ala), tidak ada
sesuatu yang haram kecuali yang beliau haramkan, dan tidak ada agama kecuali
yang beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam syariatkan. Dan segala sesuatu
yang beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam sampaikan adalah benar dan
jujur, tidak ada kedustaan dan kebohongan padanya, Allah Ta’ala
berfirman,
{وَتَمَّتْ كَلِمَةُ رَبِّكَ صِدْقًا وَعَدْلًا لَا مُبَدِّلَ
لِكَلِمَاتِهِ وَهُوَ السَّمِيعُ الْعَلِيمُ}
“Telah sempurnalah kalimat Rabbmu
(al-Qur’an), sebagai kalimat yang benar dan adil. Tidak ada yang dapat merubah
kalimat-kalimat-Nya dan Dia-lah yang Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui”
(QS. Al-An’aam:115). Yaitu: (kalimat) yang benar dalam semua beritanya serta
adil dalam segala perintah dan larangannya.
Maka ketika Allah telah
menyempurnakan agama Islam bagi umat ini, maka (ini berarti) nikmat (yang
dilimpahkan-Nya) kepada mereka telah sempurna. Oleh karena itu Allah Ta’ala
berfirman (yang artinya), “Pada hari ini telah Kusempurnakan untukmu
agamamu dan telah Ku-cukupkan kepadamu nikmat-Ku, serta telah Ku-ridhai Islam
itu sebagai agamamu”. Artinya: Terimalah dengan ridha agama (Islam) ini
bagi dirimu, karena inilah (satu-satunya) agama yang dicintai dan diridhai-Nya,
dan dengannya dia mengutus (kepadamu) rasul-Nya yang paling mulia (nabi
Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam) dan menurunkan kitab-Nya yang
paling agung (al-Qur’an)”[1].
Sikap Seorang Mukmin
terhadap Syariat Allah
Di antara ciri utama seorang muslim
yang benar-benar beriman kepada Allah Ta’ala dan hari akhir adalah
merasa ridha dan menerima dengan sepenuh hati semua ketentuan syariat yang
telah ditetapkan oleh Allah Ta’ala dan Rasul-Nya shallallahu ‘alaihi
wa sallam. Allah Ta’ala berfirman,
{وَمَا كَانَ لِمُؤْمِنٍ وَلَا مُؤْمِنَةٍ إِذَا قَضَى اللَّهُ
وَرَسُولُهُ أَمْرًا أَنْ يَكُونَ لَهُمُ الْخِيَرَةُ مِنْ أَمْرِهِمْ، وَمَنْ
يَعْصِ اللَّهَ وَرَسُولَهُ فَقَدْ ضَلَّ ضَلَالًا مُبِينًا}
“Dan tidakkah patut bagi
laki-laki dan perempuan yang (benar-benar) beriman, apabila Allah dan Rasul-Nya
telah menetapkan suatu ketetapan, akan ada bagi mereka pilihan (yang lain)
tentang urusan mereka. Dan barang siapa mendurhakai Allah dan Rasul-Nya
maka sungguhlah dia telah sesat dengan kesesatan yang nyata” (QS al-Ahzaab:36).
Dalam sebuah hadits yang shahih
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
“ذاق طعم الإيمان من رضي بالله ربا وبالإسلام ديناً وبمحمد رسولاً”
“Akan merasakan kelezatan iman
(kesempurnaan iman), orang yang ridha pada Allah Ta’ala sebagai Rabbnya dan
islam sebagai agamanya serta Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam
sebagai rasulnya“[2].
Tidak terkecuali dalam hal ini,
hukum-hukum Islam yang dirasakan tidak sesuai dengan kemauan/keinginan sebagian
orang, seperti poligami, yang dengan
mengingkari atau membenci hukum Allah Ta’ala tersebut, bisa menyebabkan
pelakunya murtad/keluar dari agama Islam[3],
na’uudzu billahi min dzaalik. Allah Ta’ala berfirman menceritakan
sifat orang-orang kafir,
{ذَلِكَ بِأَنَّهُمْ كَرِهُوا مَا أَنزلَ اللَّهُ فَأَحْبَطَ
أَعْمَالَهُمْ}
“Yang demikian itu adalah karena
sesungguhnya mereka benci kepada ketentuan (syariat) yang diturunkan
Allah sehingga Allah membinasakan amal-amal mereka” (QS Muhammad:9).
Oleh karena itu, dalam memahami dan
melaksanakan syariat Islam hendaknya kita selalu waspada dan behati-hati dari
dua senjata utama godaan setan untuk memalingkan manusia dari ketaatan kepada
Allah Ta’ala:
Yang pertama: sikap berlebih-lebihan dan melampaui batas dalam memahami
dan menjalankan ketentuan syariat-Nya, terlebih lagi dalam menjalankan
ketentuan syariat yang dirasakan cocok dengan kepentingan hawa nafsu.
Yang kedua: sikap meremehkan dan kurang dalam memahami dan
melaksanakan ketentuan syariat Allah Ta’ala, yang ini sering terjadi
pada sebagian hukum syariat Islam yang dirasakan oleh sebagian orang tidak
sesuai dengan kemauan hawa nafsunya[4].
Salah seorang ulama salaf ada yang
berkata, “Setiap Allah Ta’ala memerintahkan suatu perintah (dalam
agama-Nya) maka setan mempunyai dua macam godaan (untuk memalingkan
manusia dari perintah tersebut): [1]
(yaitu godaan) untuk (bersikap) kurang dan meremehkan (perintah tersebut), dan [2] (godaan) untuk (bersikap) berlebih-lebihan
dan melampaui batas (dalam melaksanakannya), dan dia tidak peduli dengan godaan
mana saja (dari keduanya) yang berhasil (diterapkannya kepada manusia)”[5].
Hukum Poligami dalam
Islam
Hukum asal poligami dalam Islam
berkisar antara ibaahah (mubah/boleh dilakukan dan boleh tidak) atau istihbaab
(dianjurkan)[6].
Adapun makna perintah dalam firman
Allah Ta’ala,
{وَإِنْ خِفْتُمْ أَلَّا تُقْسِطُوا فِي الْيَتَامَى فَانْكِحُوا
مَا طَابَ لَكُمْ مِنَ النِّسَاءِ مَثْنَى وَثُلَاثَ وَرُبَاعَ}
“Dan jika kamu takut tidak akan
dapat berlaku adil terhadap (hak-hak) perempuan yatim (bilamana kamu
mengawininya), maka kawinilah wanita-wanita (lain) yang kamu senangi: dua,
tiga, atau empat” (QS an-Nisaa’:3).
Perintah Allah dalam ayat ini tidak
menunjukkan wajibnya poligami, karena perintah tersebut dipalingkan dengan
kelanjutan ayat ini, yaitu firman-Nya,
{فَإِنْ خِفْتُمْ أَلَّا تَعْدِلُوا فَوَاحِدَةً أَوْ مَا مَلَكَتْ
أَيْمَانُكُمْ ذَلِكَ أَدْنَى أَلَّا تَعُولُوا}
“Kemudian jika kamu takut tidak
akan dapat berlaku adil, maka (kawinilah) seorang saja, atau budak-budak
yang kamu miliki. Yang demikian itu adalah lebih dekat kepada tidak berbuat
aniaya” (QS an-Nisaa’:3).
Maka dengan kelanjutan ayat ini,
jelaslah bahwa ayat di atas meskipun berbentuk perintah, akan tetapi maknanya
adalah larangan, yaitu larangan menikahi lebih dari satu wanita jika
dikhawatirkan tidak dapat berbuat adil[7], atau maknanya, “Janganlah kamu menikahi
kecuali wanita yang kamu senangi”.
Ini seperti makna yang ditunjukkan
dalam firman-Nya,
{وَقُلِ الْحَقُّ مِنْ رَبِّكُمْ فَمَنْ شَاءَ فَلْيُؤْمِنْ وَمَنْ
شَاءَ فَلْيَكْفُرْ}
“Dan katakanlah:”Kebenaran itu
datangnya dari Rabbmu; maka barangsiapa yang ingin (beriman) hendaklah ia
beriman, dan barangsiapa yang ingin (kafir) biarlah ia kafir” (QS
al-Kahfi:29). Maka tentu saja makna ayat ini adalah larangan melakukan
perbuatan kafir dan bukan perintah untuk melakukannya[8].
Syaikh ‘Abdul ‘Aziz bin Abdulah bin
Baz ketika ditanya, “Apakah poligami dalam Islam hukumya mubah (boleh)
atau dianjurkan?” Beliau menjawab rahimahullah, “Poligami (hukumnya)
disunnahkan (dianjurkan) bagi yang mampu, karena firman Allah Ta’ala
(beliau menyabutkan ayat tersebut di atas), dan karena perbuatan Rasulullah shallallahu
‘alaihi wa sallam, beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam menikahi
sembilan orang wanita, Allah memberi manfaat (besar) bagi umat ini dengan
(keberadaan) para istri Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam tersebut, dan
ini (menikahi sembilan orang wanita) termasuk kekhususan bagi beliau shallallahu
‘alaihi wa sallam. Adapun selain beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam
tidak boleh menikahi lebih dari empat orang wanita[9]. Karena dalam poligami banyak terdapat
kemslahatan/kebaikan yang agung bagi kaum laki-laki maupun permpuan, bahkan
bagi seluruh umat Islam. Sebab dengan poligami akan memudahkan bagi laki-laki
maupun perempuan untuk menundukkan pandangan, menjaga kemaluan (kesucian),
memperbanyak (jumlah) keturunan, dan (memudahkan) bagi laki-laki untuk memimpin
beberapa orang wanita dan membimbing mereka kepada kebaikan, serta menjaga
mereka dari sebab-sebab keburukan dan penyimpangan. Adapun bagi yang tidak
mampu melakukan itu dan khawatir berbuat tidak adil, maka cukuplah dia
menikahi seorang wanita (saja), karena Allah Ta’ala berfirman,
{فَإِنْ خِفْتُمْ أَلَّا تَعْدِلُوا فَوَاحِدَةً أَوْ مَا مَلَكَتْ
أَيْمَانُكُمْ ذَلِكَ أَدْنَى أَلَّا تَعُولُوا}
“Kemudian jika kamu takut tidak
akan dapat berlaku adil, maka (kawinilah) seorang saja, atau budak-budak yang
kamu miliki. Yang demikian itu adalah lebih dekat kepada tidak berbuat aniaya”
(QS an-Nisaa’:3).
Semoga Allah (senantiasa) memberi
taufik-Nya kepada semua kaum muslimin untuk kebaikan dan keselamatan mereka di
dunia dan akhirat[10].
Senada dengan ucapan di atas, Syaikh
Muhammad bin Shalih al-‘Utsaimin berkata, “…Seorang laki-laki jika dia mampu
dengan harta, badan (tenaga) dan hukumnya (bersikap adil), maka lebih utama
(baginya) untuk menikahi (dua) sampai empat (orang wanita) jika dia mampu. Dia
mampu dengan badannya, karena dia enerjik, (sehingga) dia mampu
menunaikan hak yang khusus bagi istri-istrinya. Dia (juga) mampu dengan hartanya
(sehingga) dia bisa memberi nafkah (yang layak) bagi istri-istrinya. Dan dia
mampu dengan hukumnya untuk (bersikap) adil di antara mereka. (Kalau dia mampu
seperti ini) maka hendaknya dia menikah (dengan lebih dari seorang wanita),
semakin banyak wanita (yang dinikahinya) maka itu lebih utama. Ibnu Abbas radhiyallahu
‘anhuma berkata, “Orang yang terbaik di umat ini adalah yang paling
banyak istrinya[11]”…[12].
Syaikh Shaleh bin Fauzan al-Fauzan
berkata, “Adapun (hukum) asal (pernikahan) apakah poligami atau tidak, maka aku
tidak mendapati ucapan para (ulama) ahli tafsir, yang telah aku baca
kitab-kitab tafsir mereka yang membahas masalah ini. Ayat al-Qur’an yang mulia
(surat an-Nisaa’:3) menunjukkan bahwa seorang yang memiliki kesiapan
(kesanggupan) untuk menunaikan hak-hak para istri secara sempurna maka dia
boleh untuk berpoligami (dengan menikahi dua) sampai empat orang wanita. Dan
bagi yang tidak memiliki kesiapan (kesanggupan) cukup dia menikahi seorang
wanita, atau memiliki budak. Wallahu a’lam”[13].
Hikmah dan Manfaat Agung
Poligami
Karena poligami disyariatkan oleh
Allah Ta’ala yang mempunyai nama al-Hakim,
artinya Zat yang memiliki ketentuan hukum yang maha adil dan hikmah[14]
yang maha sempurna, maka hukum Allah Ta’ala
yang mulia ini tentu memiliki banyak hikmah dan faidah yang agung, di
antaranya:
Pertama: Terkadang poligami harus dilakukan
dalam kondisi tertentu. Misalnya jika istri sudah lanjut usia atau sakit,
sehingga kalau suami tidak poligami dikhawatirkan dia tidak bisa menjaga
kehormatan dirinya. Atau jika suami dan istri sudah dianugerahi banyak keturunan,
sehingga kalau dia harus menceraikan istrinya, dia merasa berat untuk berpisah
dengan anak-anaknya, sementara dia sendiri takut terjerumus dalam perbuatan
zina jika tidak berpoligami. Maka masalah ini tidak akan bisa terselesaikan
kecuali dengan poligami, insya Allah.
Kedua: Pernikahan merupakan sebab
terjalinnya hubungan (kekeluargaan) dan keterikatan di antara sesama manusia,
setelah hubungan nasab. Allah Ta’ala berfirman,
{وَهُوَ الَّذِي خَلَقَ مِنَ الْمَاءِ بَشَرًا فَجَعَلَهُ نَسَبًا
وَصِهْرًا وَكَانَ رَبُّكَ قَدِيرًا}
“Dan Dia-lah yang menciptakan
manusia dari air (mani), lalu Dia jadikan manusia itu (punya) keturunan dan
mushaharah (hubungan kekeluargaan karena pernikahan), dan adalah Rabbmu Maha
Kuasa” (QS al-Furqaan:54).
Maka poligami (adalah sebab)
terjalinnya hubungan dan kedekatan (antara) banyak keluarga,
dan ini salah satu sebab poligami yang dilakukan oleh Rasulullah shallallahu
‘alaihi wa sallam[15].
Ketiga: Poligami merupakan sebab terjaganya
(kehormatan) sejumlah besar wanita, dan terpenuhinya kebutuhan (hidup) mereka,
yang berupa nafkah (biaya hidup), tempat tinggal, memiliki keturunan dan anak
yang banyak, dan ini merupakan tuntutan syariat.
Keempat: Di antara kaum laki-laki ada yang
memiliki nafsu syahwat yang tinggi (dari bawaannya), sehingga tidak cukup
baginya hanya memiliki seorang istri, sedangkan dia orang yang baik dan selalu
menjaga kehormatan dirinya. Akan tetapi dia takut terjerumus dalam perzinahan,
dan dia ingin menyalurkan kebutuhan (biologis)nya dalam hal yang dihalalkan
(agama Islam), maka termasuk agungnya rahmat Allah Ta’ala terhadap
manusia adalah dengan dibolehkan-Nya poligami yang sesuai dengan syariat-Nya[16].
Kelima: Terkadang setelah menikah ternyata
istri mandul, sehingga suami berkeinginan untuk menceraikannya, maka dengan
disyariatkannya poligami tentu lebih baik daripada suami menceraikan istrinya.
Keenam: Terkadang juga seorang suami sering
bepergian, sehingga dia butuh untuk menjaga kehormatan dirinya ketika dia
sedang bepergian.
Ketujuh: Banyaknya peperangan dan
disyariatkannya berjihad di jalan Allah, yang ini menjadikan banyak laki-laki
yang terbunuh sedangkan jumlah perempuan semakin banyak, padahal mereka membutuhkan
suami untuk melindungi mereka. Maka dalam kondisi seperti ini poligami
merupakan solusi terbaik.
Kedelapan: Terkadang seorang lelaki
tertarik/kagum terhadap seorang wanita atau sebaliknya, karena kebaikan agama
atau akhlaknya, maka pernikahan merupakan cara terbaik untuk menyatukan mereka
berdua.
Kesembilan: Kadang terjadi masalah besar antara
suami-istri, yang menyebabkan terjadinya perceraian, kemudian sang suami
menikah lagi dan setelah itu dia ingin kembali kepada istrinya yang pertama,
maka dalam kondisi seperti ini poligami merupakan solusi terbaik.
Kesepuluh: Umat Islam sangat membutuhkan
lahirnya banyak generasi muda, untuk mengokohkan barisan dan persiapan berjihad
melawan orang-orang kafir, ini hanya akan terwujud dengan poligami dan tidak
membatasi jumlah keturunan.
Kesebelas: Termasuk hikmah agung poligami,
seorang istri memiliki kesempatan lebih besar untuk menuntut ilmu, membaca
al-Qur’an dan mengurus rumahnya dengan baik, ketika suaminya sedang di rumah
istrinya yang lain. Kesempatan seperti ini umumnya tidak didapatkan oleh istri
yang suaminya tidak berpoligami.
Keduabelas: Dan termasuk hikmah agung poligami,
semakin kuatnya ikatan cinta dan kasih sayang antara suami dengan
istri-istrinya. Karena setiap kali tiba waktu giliran salah satu dari
istri-istrinya, maka sang suami dalam keadaan sangat rindu pada istrinya
tersebut, demikian pula sang istri sangat merindukan suaminya.
Masih banyak hikmah dan faedah agung
lainnya, yang tentu saja orang yang beriman kepada Allah dan kebenaran agama-Nya
tidak ragu sedikitpun terhadap kesempurnaan hikmah-Nya dalam setiap ketentuan
yang disyariatkan-Nya. Cukuplah sebagai hikmah yang paling agung dari semua itu
adalah menunaikan perintah Allah Ta’ala dan mentaati-Nya dalam semua
ketentuan hukum yang disyariatkan-Nya[17].
Arti Sikap “Adil” dalam
Poligami
Allah Ta’ala memerintahkan
kepada semua manusia untuk selalu bersikap adil dalam semua keadaan,
baik yang berhubungan dengan hak-Nya maupun hak-hak sesama manusia, yaitu
dengan mengikuti ketentuan syariat Allah Ta’ala dalam semua itu, karena
Allah Ta’ala mensyariatkan agamanya di atas keadilan yang sempurna[18].
Allah Ta’ala berfirman,
{إِنَّ اللَّهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَالْإِحْسَانِ وَإِيتَاءِ
ذِي الْقُرْبَى وَيَنْهَى عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ وَالْبَغْيِ يَعِظُكُمْ
لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُونَ}
“Sesungguhnya Allah menyuruh
(kamu) berlaku adil dan berbuat kebajikan, memberi kepada kaum kerabat, dan
Allah melarang dari perbuatan keji, kemungkaran dan permusuhan. Dia memberi
pengajaran kepadamu agar kamu dapat mengambil pelajaran” (QS an-Nahl:90).
Termasuk dalam hal ini, sikap “adil” dalam poligami, yaitu adil (tidak berat
sebelah) dalam mencukupi kebutuhan para istri dalam hal makanan, pakaian,
tempat tinggal dan bermalam bersama mereka[19]. Dan ini tidak berarti harus adil dalam
segala sesuatu, sampai dalam hal yang sekecil-kecilnya[20], yang ini jelas di luar kemampuan manusia[21].
Sebab timbulnya kesalahpahaman dalam
masalah ini, di antaranya karena hawa nafsu dan ketidakpahaman terhadap agama,
termasuk kerancuan dalam memahami firman Allah Ta’ala[22],
{وَلَنْ تَسْتَطِيعُوا أَنْ تَعْدِلُوا بَيْنَ النِّسَاءِ وَلَوْ
حَرَصْتُمْ فَلا تَمِيلُوا كُلَّ الْمَيْلِ فَتَذَرُوهَا كَالْمُعَلَّقَةِ}
“Dan kamu sekali-kali tidak akan
dapat berlaku adil diantara istri-istri(mu), walaupun kamu sangat ingin berbuat
demikian, karena itu janganlah kamu terlalu cenderung (kepada yang kamu
cintai), sehingga kamu biarkan kamu biarkan yang lain terkatung-katung” (QS
an-Nisaa’:129).
Marilah kita lihat bagaimana para
ulama Ahlus sunnah memahami firman Allah yang mulia ini.
Imam asy-Syafi’i berkata, “Sebagian dari para ulama
ahli tafsir (menjelaskan makna firman Allah Ta’ala): “Dan kamu
sekali-kali tidak akan dapat berlaku adil diantara istri-istri(mu)…”,
(artinya: berlaku adil) dalam perasaan yang ada dalam hati (rasa cinta
dan kecenderungan hati), karena Allah Ta’ala mengampuni bagi
hamba-hamaba-Nya terhadap apa yang terdapat dalam hati mereka. “…karena itu
janganlah kamu terlalu cenderung (kepada yang kamu cintai)…” artinya:
janganlah kamu memperturutkan keinginan hawa nafsumu dengan melakukan perbuatan
(yang menyimpang dari syariat). Dan penafsiran ini sangat sesuai/tepat. Wallahu
a’lam”[23].
Imam al-Bukhari membawakan firman Allah Ta’ala ini dalam bab: al-‘adlu
bainan nisaa’ (bersikap adil di antara para istri)[24],
dan Imam Ibnu Hajar menjelaskan makna
ucapan imam al-Bukhari tersebut, beliau berkata, “Imam al-Bukhari
mengisyaratkan dengan membawakan ayat tersebut bahwa (adil) yang dinafikan
dalam ayat ini (adil yang tidak mampu dilakukan manusia) adalah adil di
antara istri-istrinya dalam semua segi, dan hadits Rasulullah shallallahu
‘alaihi wa sallam (yang shahih) menunjukkan bahwa yang dimaksud dengan adil
(dalam poligami) adalah menyamakan semua istri (dalam kebutuhan mereka)
dengan (pemberian) yang layak bagi masing-masing dari mereka. Jika seorang
suami telah menunaikan bagi masing-masing dari para istrinya (kebutuhan mereka
yang berupa) pakaian, nafkah (biaya hidup) dan bermalam dengannya (secara
layak), maka dia tidak berdosa dengan apa yang melebihi semua itu, berupa
kecenderungan dalam hati, atau memberi hadiah (kepada salah satu dari
mereka)…Imam at-Tirmidzi berkata, “Artinya: kecintaan dan kecenderungan (dalam
hati)”, demikianlah penafsiran para ulama (ahli tafsir)…Imam al-Baihaqi
meriwayatkan dari jalan ‘Ali bin Abi Thalhah, dari Ibnu ‘Abbas radhiyallahu
‘anhuma beliau berkata ketika menafsirkan ayat di atas, “Yaitu: kecintaan
(dalam hati) dan jima’ (hubungan intim)…[25].
Imam al-Qurthubi berkata, “(Dalam ayat ini) Allah Ta’ala memberitakan
ketidakmampuan (manusia) untuk bersikap adil di antara istri-istrinya, yaitu
(menyamakan) dalam kecenderungan hati dalam cinta, berhubungan intim dan
ketertarikan dalam hati. (Dalam ayat ini) Allah menerangkan keadaan manusia
bahwa mereka secara (asal) penciptaan tidak mampu menguasai kecenderungan hati
mereka kepada sebagian dari istri-istrinya melebihi yang lainnya. Oleh karena
itulah, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata (dalam doa beliau),
“Ya Allah, inilah pembagianku (terhadap istri-istriku) yang aku mampu
(lakukan), maka janganlah Engkau mencelaku dalam perkara yang Engkau miliki dan
tidak aku miliki”[26]. Kemudian Allah melarang “karena itu
janganlah kamu terlalu cenderung (kepada yang kamu cintai)”, Imam Mujahid
berkata, “(Artinya): janganlah kamu sengaja berbuat buruk (aniaya terhadap
istri-istrimu), akan tetapi tetaplah berlaku adil dalam pembagian (giliran) dan
memberi nafkah (biaya hidup), karena ini termsuk perkara yang mampu (dilakukan
manusia)”[27].
Imam Ibnu Katsir berkata, “Arti (ayat di atas): Wahai manusia, kamu
sekali-kali tidak akan dapat bersikap adil (menyamakan) di antara para istrimu
dalam semua segi, karena meskipun kamu membagi giliran mereka secara lahir
semalam-semalam, (akan tetapi) mesti ada perbedaan dalam kecintaan (dalam
hati), keinginan syahwat dan hubungan intim, sebagaimana keterangan Ibnu
‘Abbas radhiyallahu ‘anhuma, ‘Ubaidah as-Salmaani, Hasan al-Bashri, dan
Dhahhak bin Muzahim”[28].
Kecemburuan dan Cara
Mengatasinya
Cemburu adalah fitrah dan tabiat
yang mesti ada dalam diri manusia, yang pada asalnya tidak tercela, selama
tidak melampaui batas. Maka dalam hal ini, wajib bagi seorang muslim, terutama
bagi seorang wanita muslimah
yang dipoligami, untuk mengendalikan kecemburuannya. Karena kecemburuan yang
melampaui batas bisa menjerumuskan seseorang ke dalam pelanggaran syariat
Allah, seperti berburuk sangka, dusta, mencela[29],
atau bahkan kekafiran, yaitu jika kecemburuan tersebut menyebabkannya membenci
ketentuan hukum yang Allah syariatkan. Allah Ta’ala berfirman,
{ذَلِكَ بِأَنَّهُمْ كَرِهُوا مَا أَنزلَ اللَّهُ فَأَحْبَطَ
أَعْمَالَهُمْ}
“Yang demikian itu adalah karena
sesungguhnya mereka benci kepada ketentuan (syariat) yang diturunkan Allah
sehingga Allah membinasakan amal-amal mereka” (QS Muhammad:9).
Demikian pula perlu diingatkan bagi
kaum laki-laki untuk lebih bijaksana dalam menghadapi kecemburuan para wanita,
karena hal ini juga terjadi pada diri wanita-wanita terbaik dalam Islam,
yaitu para istri Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Dan
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menghadapi semua itu dengan
sabar dan bijaksana, serta menyelesaikannya dengan cara yang baik[30].
Imam Ibnu Hajar al-‘Asqalani
berkata, “Asal sifat cemburu adalah merupakan watak
bawaan bagi wanita, akan tetapi jika kecemburuan tersebut melampuai
batas dalam hal ini sehingga melebihi (batas yang wajar), maka itulah yang
tercela. Yang menjadi pedoman dalam hal ini adalah hadits yang diriwayatkan
oleh Jabir bin ‘Atik al-Anshari radhiyallahu ‘anhu bahwa Rasulullah shallallahu
‘alaihi wa sallam bersabda, “Sesunguhnya di antara sifat cemburu ada
yang dicintai oleh Allah dan ada yang dibenci-Nya. Adapun kecemburuan yang
dicintai-Nya adalah al-ghirah (kecemburuan) terhadap keburukan.
Sedangkan kecemburuan yang dibenci-Nya adalah kecemburuan terhadap (perkara)
yang bukan keburukan”[31].[32]
Sebab-sebab yang
mendorong timbulnya kecemburuan yang tercela (karena melampaui batas) adalah:
- Lemahnya iman dan lalai dari
mengingat Allah Ta’ala.
- Godaan setan
- Hati yang berpenyakit
- Ketidakadilan suami dalam
memperlakukan dan menunaikan hak sebagian dari istri-istrinya.
- Rasa minder dan kurang pada diri
seorang istri.
- Suami yang menyebutkan kelebihan
dan kebaikan seorang istrinya di hadapan istrinya yang lain[33].
Adapun cara mengatasi
kecemburuan ini adalah:
- Bertakwa kepada Allah Ta’ala.
- Mengingat dan memperhitungkan
pahala yang besar bagi wanita yang bersabar dalam mengendalikan dan mengarahkan
kecemburuannya sesuai dengan batasan-batasan yang dibolehkan dalam syariat.
- Menjauhi pergaulan yang buruk.
- Bersangka baik.
- Bersikap qana’ah (menerima
segala ketentuan Allah I dengan lapang dada).
- Selalu mengingat kematian dan hari
akhirat
- Berdoa kepada Allah agar Dia
menghilangkan kecemburuan tersebut[34].
Nasehat Bagi Yang Berpoligami
dan Dipoligami[35]
1. Nasehat untuk suami yang berpoligami
- Bersikap adillah terhadap
istri-istrimu dan hendaklah selalu bersikap adil dalam semua masalah, sampai
pun dalam masalah yang tidak wajib hukumnya. Janganlah kamu bersikap berat
sebelah terhadap salah satu dari istri-istrimu.
- Berlaku adillah terhadap semua
anakmu dari semua istrimu. Usahakanlah untuk selalu mendekatkan hati mereka,
misalnya dengan menganjurkan istri untuk menyusui anak dari istri yang lain.
Pahamkanlah kepada mereka bahwa mereka semua adalah saudara. Jangan biarkan ada
peluang bagi setan untuk merusak hubungan mereka.
- Sering-seringlah memuji dan
menyebutkan kelebihan semua istri, dan tanamkanlah kepada mereka keyakinan
bahwa tidak ada kecintaan dan kasih sayang yang (abadi) kecuali dengan mentaati
Allah Ta’ala dan mencari keridhaan suami.
- Janganlah menceritakan ucapan
salah seorang dari mereka kepada yang lain. Janganlah menceritakan sesuatu yang
bersifat rahasia, karena rahasia itu akan cepat tersebar dan disampaikannya
kepada istri yang lain, atau dia akan membanggakan diri bahwa dia mengetahui
rahasia suami yang tidak diketahui istri-istri yang lain.
- Janganlah kamu memuji salah
seorang dari mereka, baik dalam hal kecantikan, kepandaian memasak, atau akhlak, di hadapan istri yang lain. Karena ini semua akan merusak
suasana dan menambah permusuhan serta kebencian di antara mereka, kecuali jika
ada pertimbangan maslahat/kebaikan yang diharapkan.
- Janganlah kamu mendengarkan ucapan
salah seorang dari mereka tentang istri yang lain, dan tegurlah/laranglah
perbuatan tersebut, supaya mereka tidak terbiasa saling menejelek-jelekkan satu
sama yang lain.
2. Nasehat untuk istri
pertama
- Bertakwalah kepada Allah dan
bersabarlah, dan ketahuilah bahwa sikap menentang dan tidak menerima akan
membahayakan bagi agama dan kehidupanmu.
- Benahilah semua kekuranganmu yang
diingatkan oleh suamimu. Karena boleh jadi itu merupakan sebab dia berpoligami.
Kalau kekurangan-kekurangan tersebut berhasil kamu benahi maka bersyukurlah
kepada Allah Ta’ala atas petunjuk-Nya.
- Berikanlah perhatian besar kepada
suamimu dan sering-seringlah memujinya, baik di hadapan atau di belakangnya,
terutama di hadapan keluargamu atau teman-temanmu, karena ini termasuk hal yang
bisa memperbaiki hati dan lisanmu, serta menyebabkan keridhaan suami padamu.
Dengan itu kamu akan menjadi teladan yang baik bagi para wanita yang menentang
dan mengingkari syariat poligami, atau mereka yang merasa disakiti ketika
suaminya berpoligami.
- Janganlah kamu mendengarkan ucapan
orang jahil yang punya niat buruk dan ingin menyulut permusuhan antara
kamu dengan suamimu, atau dengan madumu. Janganlah kamu mudah menyimpulkan
sesuatu yang kamu dengar sebelum kamu meneliti kebenaran berita tersebut.
- Janganlah kamu menanamkan
kebencian dan permusuhan di hati anak-anakmu kepada istri-istri suamimu dan
anak-anak mereka, karena mereka adalah saudara dan sandaran anak-anakmu.
Ingatlah bahwa tipu daya yang buruk hanya akan menimpa pelakunya.
- Jangalah kamu merubah sikap dan
perlakuanmu terhadap suamimu. Janganlah biarkan dirimu menjadi bahan permainan
setan, serta mintalah pertolongan dan berdolah kepada Allah Ta’ala agar
Dia menguatkan keimanan dan kecintaan dalam hatimu.
3. Nasehat untuk istri
yang baru dinikahi
- Ketahuilah bahwa kerelaanmu
dinikahi oleh seorang yang telah beristri adalah kebaikan yang besar dan
menunjukkan kuatnya iman dan takwa dalam hatimu, insya Allah. Pahamilah ini
semua dan harapkanlah ganjaran pahala dari Allah atas semua itu.
- Gunakanlah waktu luangmu ketika
suamimu berada di rumah istrinya yang lain dengan membaca al-Qur’an,
mendengarkan ceramah-ceramah agama yang bermanfaat, dan membaca buku-buku yang
berfaedah, atau gunakanlah untuk membersihkan rumah dan merawat diri.
- Jadilah engkau sebagai da’i
(penyeru) manusia ke jalan Allah Ta’ala dalam hukum-Nya yang mulia ini.
Fahamkanlah mereka tentang hikmah-Nya yang agung dalam syariat poligami ini.
Janganlah engkau menjadi penghalang bagi para wanita untuk menerima syariat poligami ini.
- Janganlah bersikap enggan untuk
membantu/mengasuh istri-istri suami dan anak-anak mereka jika mereka
membutuhkan pertolonganmu. Karena perbuatan baikmu kepada mereka bernilai
pahala yang agung di sisi Allah dan menjadikan suami ridha kepadamu, serta akan
menumbuhkan kasih sayang di antara kamu dan mereka.
- Janganlah kamu membeberkan
kekurangan dan keburukan istri suami yang lain. Jangan pernah menceritakan
kepada orang lain bahwa suami berpoligami karena tidak menyukai istrinya yang
pertama, karena ini semua termasuk perangkap setan.
- Jangan kamu berusaha menyulut
permusuhan antara suami dengan istrinya yang lain, agar dia semakin sayang
padamu. Karena ini adalah perbuatan namiimah (mengadu domba) yang
merupakan dosa besar. Berusahalah untuk selalu mengalah kepadanya,
karena ini akan mendatangkan kebaikan yang besar bagi dirimu.
Penutup
Demikianlah keterangan tentang
poligami yang menunjukkan sempurnanya keadilan dan hikmah dari hukum-hukum
Allah Ta’ala. Semoga ini semua menjadikan kita semakin yakin akan
keindahan dan kebaikan agama Islam, karena ditetapkan oleh Allah Ta’ala
yang Maha Sempurna semua sifat-sifatnya.
وصلى الله وسلم وبارك على نبينا محمد وآله وصحبه أجمعين، وآخر
دعوانا أن الحمد لله رب العالمين
Kota
Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, 26 Dzulqa’dah 1430 H
Artikel www.muslim.or.id
[1]
Tafsir Ibnu Katsir (2/19).
[2]
HSR Muslim (no. 34).
[3]
Kitab “Fadhlu ta’addudiz zaujaat” (hal. 24).
[4]
kitab “Ighaatsatul lahfan” (1/116).
[5]
Dinukil oleh imam Ibnul Qayyim dalam kitab “Ighaatsatul lahfan” (1/116).
[6]
Lihat kitab “Ahkaamut ta’addud fi dhau-il kitaabi was sunnah” (hal. 18).
[7]
Maksudnya adil yang sesuai dengan syariat, sebagaimana yang akan kami
terangkan, insya Allah.
[9]
Sebagaimana yang diterangkan dalam bebrapa hadits yang shahih, diantaranya HR at-Tirmidzi (3/435) dan Ibnu
Majah (1/628), dishahihkan oleh at-Tirmidzi dan syaikh al-Albani.
[10]
Dinukil dalam majalah “al-Balaagh” (edisi no. 1028, tgl 1 Rajab 1410
H/28 Januari 1990 M).
[11]
Atsar yang shahih riwayat imam al-Bukhari (no. 4787).
[12]
Liqaa-il baabil maftuuh (12/83).
[14]
Hikmah adalah menempatkan segala sesuatu tepat pada tempatnya, yang ini
bersumber dari kesempurnaan ilmu
Allah Ta’ala, lihat kitab “Taisiirul Kariimir Rahmaan” (hal. 131).
[15]
Lihak keterangan imam Ibnu Hajar al-‘Asqalaani dalam “Fathul Baari”
(9/143).
[16]
Majmuu’ul fataawa syaikh al-‘Utsaimiin (4/12 – kitabuz zawaaj).
[17]
Lihat kitab “Ahkaamut ta’addud fi dhau-il kitaabi was sunnah”
(hal. 31-32).
[18]
Lihat “Tafsir Ibnu Katsir” (4/596) dan “Taisiirul Kariimir Rahmaan”
(hal. 447).
[19]
Lihat kitab “Ahkaamut ta’addud fi dhau-il kitaabi was sunnah”
(hal. 69).
[20]
Sebagaimana persangkaan keliru orang-orang yang tidak memahami pengertian adil
yang sebenarnya.
[21]
Sebagaimana penjelasan para ulama yang akan kami nukil setelah ini, insya
Allah.
[22]
Bahkan kesalahpahaman dalam memahami ayat ini menyebabkan sebagian orang
beranggapan bahwa poligami tidak boleh dilakukan, karena orang yang berpoligami
tidak mungkin bisa bersikap adil !!? Kita berlindung kepada Allah dari
penyimpangan dalam memahami agama-Nya.
[23]
Kitab “al-Umm” (5/158).
[24]
Dalam kitab “shahihul Bukhari” (5/1999).
[25]
Kitab “Fathul Baari” (9/313).
[26]
Hadits ini adalah hadits
yang lemah, diriwayatkan oleh Abu Dawud (no. 2134), at-Tirmidzi (no. 1140),
an-Nasa’i (no. 3943) dan Ibnu Majah (no. 1971), dinyatakan lemah oleh Abu
Zur’ah, Abu Hatim, an-Nasa’i dan syaikh al-Albani dalam “Irwa-ul ghalil”
(7/82).
[27]
Kitab “Tafsiirul Qurthubi” (5/387).
[29]
Lihat kitab “Ahkaamut ta’addud fi dhau-il kitaabi was sunnah”
(hal. 136).
[30]
Ibid.
[31]
HR an-Nasa’i (no. 2558) dan Ibnu Hibban (no. 295), dinyatakan hasan oleh Syaikh
al-Albani.
[32]
Kitab “Fathul Baari” (9/326).
[33]
Lihat kitab “Ahkaamut ta’addud fi dhau-il kitaabi was sunnah”
(hal. 140).
[34]
Ibid (hal. 141).
No comments:
Post a Comment